aku masih ingat
angkot biru tua
sehabis hujan
sore hari
dan aku duduk diam
lewat dengan cepat
berganti-ganti
berkelebatan
sampai tak sengaja mata ini tertumbuk
pada penjual bakso pikul tua
yang berjalan dengan miring demi keseimbangan pikulannya
yang memukulkan “sirene” “ketok kayu”-nya
di pinggir jalan raya.
ia berjalan.
menampilkan ekspresi yang menyimpan banyak arti.
yang aku tak tahu cara mengartikannya dengan kata ini
terus kupandang dari tempatku terdiam
lama sampai akhirnya ia hilang ditelan jalan.
lalu entah kenapa.
sambil terdiam, hatiku menangis.
sampai akhirnya aku beranjak berdiri lalu pergi
tetapi tetap kudapati hatiku menangis
entah mengapa demikian adanya.smpai sekarang pun,
bila kuingat, hatiku kembali menangis.
entah sampai kapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar