12 Maret 2010

tremendous

Sebuah pertemuan (lagi) dengan seorang perempuan (tanpa nama) di angkot AL, pagi hari jam 07.45 WIB.
Pada tanggal 4 Maret 2010.

Harus diakui, bahwa ia memiliki beberapa kekurangan atau dengan kata lain, dia tidak sempurna. Tapi harus diakui pula, bahwa ia sangat berkesan. Ia tinggi dibanding perempuan pada umumnya, memiliki wajah yang khas unik, rambut dikuncir pendek yang manis, kulit eksotik yang merupakan perpaduan antara putih dan coklat matang, bekas jerawat halus indah yang menghiasi wajahnya, dan segaris kelelahan tersirat di wajahnya yang membuatnya hanya terdiam sepanjang waktu itu (Entah, mungkin ia juga baru saja bepergian cukup jauh sepertiku.)

Pada akhirnya, di angkot hanya tinggal kami berdua.

Kutunjukkan kekagumanku dengan mengarahkan pandangan mataku terus ke arahnya, dengan kamuflase seolah-olah ku pandang pemandangan di belakangnya. Sembari kuarahkan pandanganku, kuutarakan juga maksud itu melalui gerak tubuhku. Tak lupa, seluruh diriku ini kuarahkan kepadanya, baik jiwaku maupun ragaku, dari panca indera, pikiran, hingga hatiku.

Transmisinya diterimanya.

Akhirnya ditangkapnya segala pesan yang kusampaikan dengan seluruh kehadiranku di situ. Membuncah, karena ketika dia sadar, perlahan-lahan dialihkan pandangannya ke sekeliling (juga gerak kamuflase) lalu menumbukkan pandangannya kepadaku.

Cukup.

Prosesnya pun selesai, ditandai dengan datangnya pandangan matanya kepadaku. Pasti dicarinya, dari mana seluruh energi itu datang. Dan ditemukannya bahwa itu dariku.

Lalu bagaimana? Tidak kutangkap matanya. Karena itu bukan tujuanku. Hanya sekedar memastikan bahwa pengiriman ini berhasil. Hanya mengecek bahwa seluruh kehadiranku di sana ternyata mampu menyampaikan pesan itu.

Seperti sms, yang tersampai dari satu ponsel ke ponsel lain secara wireless, maka seperti itu pula proses pengiriman pesan yang tersampaikan selama hari ini. Sms kekaguman! Hahaha…

Cukup mengingatkanku bahwa Allah juga bekerja dengan cara yang sama.
CintaNya wireless juga!
Tidak memandang kesempurnaan sebagai syarat untuk mencintai seseorang.
Dan Ia memakai segala cara untuk menyampaikannya kepada kita!

--

Apa yang hendak dikatakan melalui penggalan kisah di atas?
Hanya sekedar mengingatkan bahwa diri kita merupakan sebuah teks yang mampu menyampaikan pesan bagi ‘para pembaca’ di sekitar kita. Terkadang pesan muncul secara spontan, kadang disertai manipulasi beragam tujuan.

Permasalahan bukan pada apa pesan-pesan sehari-hari yang selama ini telah kausampaikan,
tetapi citra dasar apa yang hendak kausampaikan melalui pesan-pesan itu?

Remember, that a line was made by many dots!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar