05 Agustus 2011

Ode dan Salute buat para musisi indie

Sekarang (ini saya nulisnya Januari 2010), saya lagi getol-getolnya mencarai referensi lagu-lagu indie (yang tidak mengekor mayor label). Pertama, saya jatuh cinta pada cewek yang bernama panggung Frau, dengan lagu andalannya, ‘Mesin Penenun Hujan’. Semakin lama, saya semakin kenal banyak musisi indie lainnya. Hingga akhirnya, sekarang hati saya tertambat pada EndahnRhesa, duet gitaris cewek dan bassis cowok (sekarang sudah suami istri) yang selalu berakustik-ria. Lagunya EndahnRhesa keren-keren banget, sumpah! With inspiring lyric, artistic music, unordinary theme, humanist view, for me and now, they are the best! (Kalau penasaran, bisa minta lagu plus liriknya sama saya.). Dan puaslah saya, karena sebagian besar lagu mereka sudah saya miliki (dapet gratisan lewat internet. maklum, orang miskin. lha wong internet-nya aja juga gratisan!).

Musik mereka (musicians above and others) benar-benar berkualitas. Nggak kalah dan mungkin justru lebih baik bila dibandingkan dengan musik-musik ala mayor label yang populer dan terkenal. Malah, musik-musik ala mayor label yang populer dan terkenal itu justru sering kali nggak sebagus musik para musisi indie ini. Tetapi, toh yang disenangi masyarakat kebanyakan adalah jenis musik yang mendayu-dayu ala Melayu dengan romantisme cinta yang membuat banyak orang jadi kecanduan, atau yang dinyanyikan dengan koreografi seksi oleh penyanyinya maupun dancers-nya, atau yang memiliki lirik-lirik konyol dan easy listening (musik dan lirik sederhana yang diulang-ulang), dll.

Sebelumnya, saya hendak menyatakan bahwa kapasitas saya ini bukan untuk menyatakan bahwa musik-musik yang populer dan terkenal tidak baik untuk didengar. Saya nggak anti kok, sama mereka. Namun, saya hendak menyatakan bahwa sebenarnya, ada perbedaan besar antara musik-musik yang didasari oleh idealisme pemusiknya dan yang melulu didasari oleh permintaan selera pasar. Bisa saja, kualitas kedua musik ini sama indahnya. Tetapi, apresiasi lebih ditujukan kepada mereka yang menyanyi didasari idealisme bermusik mereka karena biasanya dibarengi unsur keberanian bereksplorasi dalam alat musik, lirik, tema, dan lain sebagainya. Keindahan lebih memancar pada mereka yang berani bernyanyi secara idealis, baik itu yang bergabung dalam mayor label, maupun indie label. Both of them!
Sebenarnya, ini loh yang hendak saya bagikan kepada pembaca semua melalui ilustrasi di atas, yakni mengenai perbedaan antara hidup yang betul-betul diperjuangkan dan yang hanya sekedar ikut arus sekitarnya saja. Hidup dengan idealisme adalah suatu hidup yang menakjubkan. Menjalani hidup dengan memiliki 1 tujuan yang selalu diusahakan untuk dicapai akan memancarkan kualitas hidup yang berbeda dengan mereka yang sekedar menjalani hidup tanpa memiliki idealisme tersebut. Tantangan bagi mereka yang memiliki idealisme tentu lebih besar dibandingkan mereka yang tidak memilikinya. Tetapi kepuasan bagi mereka yang menjalani hidup yang demikian dan akhirnya berhasil mencapai idealisme tersebut tentu juga lebih besar.
Inilah yang menjelaskan fakta mengenai adanya 2 orang yang sama-sama melihat kemiskinan di depan mata mereka, tetapi melakukan tindakan yang berbeda; yang satu meratapi kemiskinan tersebut dan mengutuk kemiskinan itu, lalu pulang ke rumah untuk makan kenyang dan tidur nyenyak; lalu hidup pun berputar seperti biasa. Sedangkan yang lain, ia meratapi kemiskinan, mengutuk mereka yang memiskinkan, dan segera menolong orang miskin walau sepertinya itu hanyalah kesia-siaan abadi. Nggak mungkin kan, memberantas kemiskinan? Hanya orang bodoh yang berpikir mampu melakukannya! Sama seperti Yesus yang berharap mampu membebaskan manusia dari dosa dengan kematiannya. Toh, orang berdosa tetap saja ada! hahaha... Now, see?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar