05 Agustus 2011

Spesial buat calon imam di seluruh dunia

Sekarang ini (saya tulis pertengahan Juni 2010), kita sedang memasuki masa-masa ujian. UTS-UTS dan paper-paper datang silih berganti. Ketika yang satu sudah selesai, lalu yang lain menunggu untuk diselesaikan. Tak heran, ruang komputer sering sekali penuh akhir-akhir ini. Kerja sampai tengah malam di ruang komputer pun dijabani demi paper UTS dan UAS yang ternyata deadline-nya besok.
Kita pun harus mempersiapkan fisik untuk UAS beberapa minggu lagi. Seringkali kita harus berusaha berkali-kali lipat lebih keras demi nilai-nilai UAS yg memuaskan. Ringkasan serta jawaban-jawaban pertanyaan dr soal-soal tahun lalu beredar dengan cepat di tangan kita. Bisa-bisa, yg lembar ringkasan yg kita fotocopy adalah bentuk copy yg kesekian kalinya, sampai-sampai bentuk tulisan yg bisa dibaca hanya 60%. Sisanya ga jelas.

Sebenarnya, untuk apa kita belajar begitu keras sedemikian rupa?
Tentu, demi cita-cita saya menjadi imam, donk! Menjadi imam adalah pekerjaan yg begitu super-duper berat, susah, menderita, dsb., sehingga dibutuhkan imam-imam yg begitu super-duper hebat, cerdas, berkarakter, jenius, dsb. Maka dari itu, saya pun harus mempersiapkan diri dengan belajar sedemikian rupa demi masa depan Gereja yg lebih cerah. Gereja membutuhkan saya! Tanpa keberadaan saya, Gereja keuskupan saya akan kehilangan peluang untuk menjadi lebih baik. (Haha! Taik! Gombal! Tp aneh lho, soalnya dulu waktu saya daftar ke keuskupan, kok saya bisa diterima dengan alasan seperti ini ya? Paling2 keuskupan sudah ga punya pilihan lagi, makanya lamaran saya diterima.)


Oh iya, berkaitan dengan ini, saya mau cerita nih. Beberapa hari lalu, tepatnya tgl 4 mei, saya pergi ke kampus sendirian buat kumpul paper UTS liturgi. Karena gak ada kuliah, setelah kumpul paper, saya langsung pulang. Pas di jalan setapak di samping SVD itu, saya berjalan ke arah Giovanni beriringan dengan 2 orang pemulung yang menuntun sepeda mereka. Karena saya berjalan di urutan terakhir, maka selama beberapa menit itu, saya mengamati-amati mereka dari belakang. Entah harus bagaimana suara hati saya berkata. Saya mau kagum, tp kok sepertinya kok cuma omong kosong (masak kagum sama orang susah? toh mereka tak merasakan bertambah apa-apa atas kekaguman saya; atau malah kalau saya ungkapkan lewat perkataan, saya bisa-bisa dikira menghina atau paling untung, dikira orang gila).
Ketika sudah keluar dari jalan setapak, saya pun segera menaiki sepeda saya (oh iya, saya saat itu bawa sepeda). Sebelum saya pergi lebih jauh, saya ditanya oleh salah satu pak pemulung tsb, ‘Mas ini sekolah di seminari ya?’ (smbil menunjuk STFT). Kontan saya jawab dengan singkat: “Ya!” Eh, ternyata si bapak itu kemudian memperkenalkan diri kalau dia beragama katolik, dibaptis thn 1939, dan tinggal di Sukun. Tapi, entah kenapa, saya kok begitu dingin menanggapinya. Saya cuma angguk2 kepala saja, terus berpamitan untuk segera meninggalkannya setelah menyebrang depan STIKI. Gak ada basa-basi untuk mampir ke Giovanni kek, atau ngobrol sedikit lebih lanjut kek. Padahal, bapak itu juga menyebrang ke rute yg sama dengan saya. Rasanya kekaguman saya sebelumnya, gak da efeknya ketika bersentuhan dengan bapak tersebut. Bahkan identitas kekatolikan yg disebutkannya tadi, yg berusaha dijadikan daya tarik agar saya dapat berkomunikasi dengannya lebih baik, rasa-rasanya mental begitu saja dan terlempar ke jalanan di depan STIKI untuk kemudian disambar mobil Kijang biru metalik berplat L (Surabaya).
Dalam perjalanan mengayuh sepeda menuju Giovanni, saya merasakan penyesalan dlm hati saya. Ketika saya di depan TPA, saya sempat menoleh untuk hanya melihatnya yang mengayuh sepeda perlahan. Tapi kok ga ada sedikit pun keberanian dalam diri saya untuk kemudian melambatkan sepeda untuk sekedar menemaninya mengayuh sepeda atau menawarinya mampir ke seminari; dan toh akhirnya saya terus melaju ke seminari, dan tak lama kemudian pergi internetan di Cyber net (nama warnet). Walau ada rasa ga enak, tp saya buat enak2 aja. Ah, biar aja, sebentar juga lupa!
Eh, tunggu dulu komentarnya, perbuatan saya itu gak salah lho! Yang salah ya bapak itu! Kok pake kenalan2 segala, sampe2 bikin beban tak tertahankan dalam hati saya karena mengaku Katolik. Coba yg ngajak kenalan itu umat Katolik yg cantik, masih muda, dandanannya modis, pakai mobil baru, trus bilang gini dengan suara genitnya, “Eh, mas ini kuliah di seminari ya? (Ya!) Frater donk? (Ya iya lah! Emang kenapa?) Kapan2 mampir ke rumah ter, dekat sini kok” Bila demikian, tentu ceritanya akan beda. Kalau perlu, saya tinggalkan sepeda tua jadul milik Paska (ini nama teman saya) itu di situ, lalu saya nunut mobilnya! Sambil naik mobilnya, saya akan ngomong dalam hati, “Frater itu ya harus kayak gini, perhatian sama umatnya!” Lalu sambil naik mobil umat ini, sebagai calon pemimpin yg sayang sama domba-dombanya, saya akan banyak berdialog tentang kehidupan dengannya. Kemudian akan saya ajarkan cara hidup kristiani yg baik, lalu akan saya ajarkan cara berfilsafat yg hebat di depannya. Tak lupa saya ajarkan juga cara berliturgi, berpikir logis, berteologi, dan berhomili dengan baik dll. Intinya, semua sumbangan STFT akan saya praktekkan di depannya. Bukankah frater yg baik adalah yg macam saya ini, yg setia menemani domba2nya ke mana saja; ke Matos, ke Dieng, ke rumah makan, dan kalau pun saya diajak berkarya ke paroki2, ya tolong diusahakan diberi uang transport dan lelah lah. Betul kan? Haha!

Sebagai penutup, saya cuma mau ngomong gini, bahwa musim ujian sudah dekat dan kita harus mempersiapkan diri dengan baik demi cita2 imamat kita. Tp saya mau tambahkan ini, bahwa ada hal2 yg lebih hrs diberi perhatian dalam perjalanan mencapai imamat kita tsb. Dalm wkt + 7 tahun, semoga sisi itu tergarap dengan baik. Jangan kayak saya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar