22 Januari 2010

(lagi) Perempuan Bank Mandiri, Malang

Suatu sore, tertangkap dari atas.
dan terus berusaha kutangkap bersama teman setiap saat dia lewat, sang dambaan hati.

2 kali sehari, seperti mandi,
kutangkap bagai perangkap lalat.
tunggu saat yang tepat dan...
Yup! Terperangkap!

Tapi, setelah itu ya sudah!
Lha wong, dia terbang lagi kok!

Lalat tahu bahwa ini perangkap
toh, tetap lewat.
“Asal jangan menjerat!”, serunya.

Sampai suatu saat datang buta terong yang menemukan perangkap rahasia itu,
dan hendak mengikuti, mengamati, serta menunggui sebagaimana kami.

Buta terong itu merusak batas-batas pakem yang ada,
dilanggarnya semua!
Bedebah!

Dan tak lama, sang dambaan pun tak lewat lagi.
Tidak diantara aku dan temanku tahu alasannya!

Karena buta terong?
Mungkin saja, tetapi siapa yang tahu?
Tiada satu pun!

Kukunjungi markasnya, kutelusuri jalannya, kutunggu di jalur lain yang ada,
dan tiada bersua juga,

Tapi biarlah!
mau apa lagi?

Membekas lho, dalam hati!
Wajahnya!
Gesture-nya! (Ini yang istimewa!)
Keberadaannya!

Kapan lagi ada yang seperti ini?
Sayangnya, terlewati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar