05 Agustus 2011

Siapa yang mampu membedakannya dalam gelap dan dari kejauhan?

Suatu saat, saya heran dengan teman saya yang walau chasing-nya begitu duniawi banget (suka fashion, selalu up to date tentang pernak-pernik cewek, bergaya hidup kelas atas, dan tidak pernah hidup susah), tetapi ternyata masih suka ngomong dan diskusi tentang Tuhan. Pokoknya ketika ngomong tentang Tuhan, bawaannya mesti sendu dan rohani melulu.

Saya: Bunga (bukan nama sebenarnya), ga keliru denger nih kamu sekarang ngajak ngobrol ttg Tuhan Yesus? Perasaan isi facebook-mu itu melulu mslh sepatu, pakaian, pernak-pernik cewek dan sejenisnya. Ga ada tanda-tanda interes sama sekali terhadap Tuhan tuh.

Bunga: Ya.., gini-gini aku masih kenal Tuhan. Dulu….. (Dan dikisahkanlah pengalaman hidupnya ketika bergulat dengan pelbagai macam masalah dalam keluarganya. Kisahnya ternyata begitu mengagumkan karena dia akhirnya menemukan Yesus sebagai penolong terakhir yang bisa diandalkan olehnya dan oleh keluarganya. Kadang-kadang, perkataan dan penghayatan imannya justru lebih rohani daripada saya. HAHAHA!!)
***

Dunia memang selalu mampu menyilaukan mata manusia dengan sinaran dan pancaran keindahannya. Industri musik, olahraga, fashion, life style, dengan berbagai macam produk idealisme dan mimpi-mimpi menjadi selebritis yang terus menerus berputar di sekitar kita, perlahan-lahan mampu membius kita untuk ikut arus bersamanya. Manusia yang sebelumnya silau akan keduniawian itu, lalu menjadi mengaguminya, dan untuk selanjutnya mengikutinya. Dari zaman ke zaman, manusia selalu memiliki modus operandi yang sama dalam kaitannya dengan interaksi terhadap dunia.
Sekarang, apakah kesilauan, kekaguman, dan keikutsertaan manusia itu buruk? Apakah buruk bila seseorang yang mengaku beriman kepada Tuhan tetapi sekaligus suka berpakaian seksi atau mewah, tidak pernah lepas dari earphone di telinga dan papan ketik Blackberry di tangan, suka membaca majalah Playboy, suka membuka situs-situs porno, selalu up to date mengenai film-film Hollywood atau Bollywood, hobi JJS di mall, dan bahkan senantiasa suka mengambil posisi anti agama dalam hidup sehari-hari?
Saya di sini tidak hadir untuk memberi jawaban ya atau tidak terhadap rentetan pertanyaan di atas. Meski kita sendiri memiliki jawaban yang beragam atas pertanyaan di atas, namun mau atau tidak mau, kita akan menemui fenomena di atas. Banyak manusia yang mengaku beragama dan beriman kepada Tuhan, tetapi kelihatan bahwa dalam hidupnya tidak rohani banget. Kita sendir tidak dapat menilai dan menghakimi dengan mudah, apakah manusia ini beriman atau tidak, pantas masuk surga atau tidak, perlu ditobatkan atau tidak, dsb., dst., dll (silahkan membuat dikotomi-dikotomi sendiri).
Pikir saya: memang inilah konteks manusia dewasa ini, dimana sisi kehidupan yang rohani itu hidup berdampingan begitu erat dengan yang duniawi. Serupa 2 sisi mata uang tidak dapat dipisahkan dalam kesatuannya atau seumpama lubang anus, tempat keluarnya isi perut dan kotoran, yang bersanding begitu dekat dengan lubang rahim perempuan, tempat menyeruaknya kehidupan manusia untuk pertama kalinya! Siapa yang mampu membedakannya dalam kegelapan di kejauhan?
Tantangan bagi setiap manusia rohani dewasa ini sama, yakni bagaimana cara menemukan Tuhan dalam kegemerlapan dunia. Manusia apapun agamanya, kepercayaannya, aliran new age-nya, bahkan bila ia mengaku ateis pun memiliki panggilan yang serupa, untuk menemukan Tuhan dalam selubung yang menyelimuti-Nya. Dapat dikatakan bila Tuhan senang main petak umpet. Ia menunggu dengan setia sampai ada orang yang mau dan mampu menemukan-Nya. Sejak zaman bangsa Israel seperti tertulis dalam Kitab Suci hingga sampai sekarang ini, Tuhan selalu mengundang manusia untuk mencari-Nya dan bagi mereka yang menemukan-Nya, hadiah luar biasa telah disediakan bagi mereka. Bayangkan, mendapat hadiah dari yang Empu-Nya segalanya ini! Apapun sebutan dan bentuknya, pasti hadiah itu sangat luar biasa, menakjubkan, mencengangkan, fantastik, spektakuler, dan tidak dapat ditebak.
Kawan-kawan, alangkah berbahagianya bila hidup kita selalu dalam lindungan Tuhan. Apapun kondisi dan masalah yang dihadapi, yang namanya optimisme, harapan, dan kebahagiaan tidak akan pernah hilang lenyap. Saat ini ada begitu banyak manusia yang kehilangan harapan, kepercayaan terhadap orang lain, kebahagiaan, dan optimisme, yang membuat hidupnya sudah terasa dalam neraka kesendirian. Marilah kita berdoa bagi mereka; marilah kita menjadi kawan yang baik bagi mereka; dan marilah kita menimba kekuatan dari Tuhan sendiri untuk mampu hidup sesuai dengan kehendak-Nya dalam dunia yang semakin modern, menakjubkan, membiuskan, dan sekaligus mampu menyesatkan!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar