25 September 2011

DOA (KU) SESUDAH MENYAMBUT KOMUNI


Entah sudah berapa kali kita bertemu dan bersatu.
Dan entah sudah berapa kali pula aku bertanya-tanya dalam diri,
 sesudah menerima Tubuh-Mu,
“harus berdoa macam mana lagi aku ini, ya Tuhan Allahku?“

Kulihat diriku lagi, jauh ke dalam,
kepada makhluk ciptaan yang paling sempurna ini.
Dan kudapati diriku,
yang semakin jauh,
dari citra itu.

Terlalu hina bahkan.

Seolah-olah, iman ini tidak membantu,
Hosti yang kuterima tidak membatu,
hanya hilang menjadi debu.


Hidup ku ruwet,
Bingung tak tentu arah.
Bila demikian, kepada siapa aku harus berpegang?

Andai Engkau hadir di sini dan saat ini.
Lebih dari apa yang kuterima ini.

Bisa kupeluk erat, kutepuk keras, kurenggut erat, kupagut tak kulepas,
dan maaf, kupukul bertalu-talu bila perlu.

Tentu bila demikian,
hidupku akan sedikit berbeda.
Mungkin tidak lalu menjadi sempurna,
Tapi tentu akan lebih baik,
dan sangat jauh lebih baik.

Ah.., kenyataannya ternyata tidak demikian,
Kau tidak kelihatan.
Mungkinkah sekarang engkau sedang bersembunyi,
mengintipku dari awan?

Awas, awan sekarang begitu cerah,
hati-hati saja bila wajah menawan-Mu terlihat dari bawah.
Aku pasti akan jadi orang pertama yang mendapati-Mu.
Gotcha!

Ya sudahlah,
sepertinya Engkau pun tidak akan datang memelukku,
meski aku menangis tersedu-sedu di hadap-Mu.
Biarlah,
mungkin suatu saat aku tahu,
 alasan mengapa Engkau bertindak begini dan begitu.
Aku menyerah sudah.

Tuhanku,
lagu komuni sudah usai.
Imam dan para asisten-nya sudah kembali ke altar.
Izinkan aku undur dulu.

Sebentar lagi,
aku pulang bersama keluargaku.
Berkatilah dan sertailah kami selalu.

Kuatkan iman ku,
untuk selalu setia dan berpengharapan selalu pada-Mu.

Bye-Bye, Tuhanku.
Aku cinta kamu.
Dan maaf bila saat ini,
 belum terwujud sempurna apa kataku itu.
Kuharap,
setialah Kaumenunggu.

Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar