Suatu hari, saat sedang dalam rangka libur panjang semesteran, sore hari di kereta api ekonomi, dengan penumpang yang penuh sesak sampai-sampai aku harus berdiri berjinjit, ada bunyi sms masuk ke hp (pinjaman) saya. Ternyata dari temanku yang jauh di sana; sahabat dekat seangkatan ketika di seminari menengah dulu. Obrol sana obrol sini, tanya kabar dan kondisi. Sampai akhirnya bertanyalah dia kepadaku, dalam nuansa yang agak sendu dan kelabu (terlihat dalam alur perbincangan kami via sms tadi), “What should a good man do everyday?”
Yang aku tahu, suasana hati temanku ini sedang kacau. Entah apa masalahnya, sepertinya besar, namun ia enggan bercerita secara detail. Pokoknya minta doa buat dirinya itu. Tentu dalam keadaan cemas dan bertanya-tanya, lalu diberi pertanyaan model tersebut, aku jadi bingung. Apa maksud pertanyaan itu?
Memang pertanyaannya sederhana, apa sih yang dilakukan orang yang baik itu setiap hari? Selalu berdoa tak kunjung henti seperti rahib-rahib biara? Senantiasa berada di rumah-rumah ibadat sepanjang hari? Rajin melakukan kegiatan-kegiatan sosial ke rumah jompo, panti asuhan, dsb? Apakah demikiankah yang dilakukan orang baik setiap hari?
Aku pun bertanya-tanya dalam hati, kepada Allah yang bersemayam dalam jiwa ini. Jawaban apa yang harus kuberikan kepadanya? Suasana kereta api ekonomi sore yang sebelumnya penuh sesak dan ramai, seolah-olah perlahan berubah menjadi sepi dan temaram. “What should a good man do everyday?”, pertanyaan itu muncul berulang-ulang dalam pikiranku, seperti file mp3 yang disetel repeat mode, tanpa tahu kapan akan berhentinya.
Sampai akhirnya, Voila!! Lalu kuingat barisan ayat suci yang sesegera mungkin kukirimkan kepadanya. Barisan ayat suci yang jadi bahan pelajaran di STFT Widya Sasana, Malang, pada semester itu. Bunyinya demikian:
Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut ajakan orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan merenungkan Taurat itu siang malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.
Ah..., betapa indah ayat ini; dan berbahagialah ia yang mampu memahami dan menyelaminya!!
Aku nggak tahu, apa dia paham dengan serentetan ayat yang kukirim via sms itu. Mungkin susah dipahami karena bahasa sms itu mau atau tidak mau harus disingkat-singkat sehingga muncul simbol-simbol komunikasi baru yang ambigu; ayat indah itu bisa berubah jadi demikian: Brbhgialah orng yg tdk brjlan mnrt ajkan orng fasik, yg tdk brdiri d jln orang brdosa, dn yg tdk duduk dlm kmpln pncemooh, tp yg....., dst. Bayangkan bila disuruh membaca kata2 mutiara atau motivasi tapi dengan rentetan kacau huruf2 hidup dan mati. Maaf yang banyak ya, bro, proses transfer emosi dan energi positif tidak berjalan dengan baik gara2 teknologi text-nya cellular phone yang masih terbatas ini.
(Mengapa nggak telpon aja, se? *hening dan diam; berharap anda tak bertanya pertanyaan tabu tsb.)
Eh..., balik ke cerita tadi. Temen saya mengirimkan sms balasan yang singkat begini: thanks, ted. Dan kemudian kubalas dengan singkat pula: God always be with you, pal. Kumasukkan hp (pinjaman) saya tsb, sambil menatap ke jendela kereta api ekonomi sore yang menyajikan pemandangan versi flash atau gundala si putra petir. Berkelebat-kelebat saja, namun hebatnya masih tetap indah dipandang dan dinikmati dalam perjalanan. Saya pun mengantuk jadinya. Oahm…. Tentu tidur adalah sesuatu yang dilakukan orang baik pula. Saya pun tertidur.
N.B.: deretan ayat suci itu berasal dari Mazmur 1 (dng beberapa penyesuaian).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar