07 Desember 2011

HILANG LENYAP SEPERTI DEBU




Apakah manusia itu sehingga ia berani mendongakkan wajahnya menantang langit? Kekayaan, ketenaran, kecantikan, kesejahteraan, keamanan, kenyamanan; kesemuanya itu dicarinya sampai ke ujung dunia, untuk kemudian direngkuh bagi dirinya dan direguk dalam hidupnya.
Ditampilkannya sosok yang tangguh dan unggul, dengan berbagai atribut penyilau mata bagi yang memandang. Mengundang berdecak, bertepuk, dan berlagu untuk setiap yang bertemu. Seolah-olah seluruh keelokkan dan kenikmatan dunia, tak ada yang luput dari genggaman tangannya.
Namun sesungguhnya, manusia seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang berlalu. Tidak ada yang mengetahui, tidak ada yang memahami, dari mana awal mula dan sampai mana titik akhirnya. Semuanya tiba-tiba saja dapat hilang lenyap sekejap menjadi abu.
Bila demikian, lalu sia-sialah segala instrumen dan atribut dunia yang telah dibangun bagi dirinya semata. Yang selama ini dicari dan dikejarnya sepanjang siang dan malam, tiada henti tiada sepi.
Seperti laron di musim hujan; dimana nyalanya dapat sangat terang, untuk kemudian redup dan menghilang. Seperti demikianlah nasib kemuliaan manusia. Sebab manusia, betapapun mulianya, tak ada ubahnya dengan hewan yang jatuh binasa. Ketika mati, tak ada kemuliaann yang dibawanya serta.
Maka sahabatku, janganlah berpegang erat pada dunia ini, yang saat pagi timbul muncul namun saat petang hilang membayang. Yang mengecewakan banyak manusia, namun sedikit yang belajar dari semuanya.
Berharaplah kepada Allah, penyelamatmu. Yang menatang dirimu ketika kau belum bisa berjalan; memegang tanganmu ketika jalan menjadi kian gelap; dan mengangkat dirimu ketika kau jatuh terjembab.
Kepada-Nyalah, gantungkan harapanmu. Kepada Dia yang tak akan mengecewakanmu. Kepada-Nyalah, bisikkan citamu, kepada Dia yang tak akan meninggalkanmu. Sebab kepada siapa lagi engkau akan berharap, ketika seluruh dunia meninggalkanmu?
Kepada dirimu sendiri kah? Ah, sudahlah…

Mazmur 144
3 Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya,
dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?
4 Manusia sama seperti angin,
hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.

Yesaya 49:15
Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya,
sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya?
Sekalipun dia melupakannya,
Aku tidak akan melupakan engkau.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar