Dengan jubah putih cemerlang,
Kami tidak seperti yang anda bayangkan;
dengan sendirinya lalu suci bersih tanpa noda.
Kami memang tidak tercipta demikian.
Saat doa tobat dalam misa, kami pun berseru sekuat tenaga:
“Saya berdosa, saya berdosa. Saya sungguh berdosa....“
Dada
ditepuk keras-keras!
Karena kami sadar, mungkin kamilah yang paling berdosa.
Bergelimang kemunafikan, sampai ke sum-sum sendi.
Sudilah engkau memaafkan kami,
Karena kami memang tidak tercipta demikian.
Kadang
kami lelah atas prasangka dan praduga.
Seolah
Tuhan senantiasa menjadi menjadi batu pijakan.
Tidak tahukah engkau, kami sering
hilang tertelan zaman?
Kami tersesat di jalanan, meski
raga tak kelihatan.
Namun memang lebih baik engkau
tak mengetahuinya,
supaya sistem terus berjalan
normal.
Sehingga mobil-mobil tetap
berada di atas jalan raya,
rangkaian panjang kereta api
tetap melekat pada relnya,
burung-burung dapat terbang
dengan diskon gaya gravitasi bumi setiap hari,
dan semut-semut dapat menemukan jalurnya kembali
ke sarangnya di sore hari.
Ah, meski sekarang engkau
mengetahuinya,
karena aku memberitahukannya.
Jangan engkau lalu hilang harapan,
seperti seolah-olah tak
bertuhan.
Engkau masih bisa tetap berharap
pada kami.
Karena masih ada hati nurani yang mengganggu dalam diri kami.
Kepadanyalah, kami diingatkan.
Mengenai mimpi-mimpi kami,
untuk memiliki hati yang murni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar