14 Mei 2012

MENCINTA ITU SAMPAI MATI, TANPA PAMRIH



Mencinta itu seyogyanya sampai berani mati. Tuhan sudah mencontohkannya sendiri, dengan pengurbanan-Nya di kayu salib. Bagi kita sendiri, kegiatan mencinta itu harus sampai pada teladan Tuhan sendiri, yakni sampai berani mengurbankan seluruh hidup ini. Namun tentu, perwujudannya tidak selalu harus sampai mati.
Mencinta sampai mati itu serupa dengan mencinta tanpa pamrih. Istilah ini terasa aneh, tidak jelas. Bagaimana mungkin manusia dapat mencinta tanpa pamrih? Suatu kemustahilan itu! Saya pun tidak dapat menguraikannya dengan panjang lebar mengenai pengertian cinta tanpa pamrih ini. Tetapi setidaknya saya dapat menjelaskan beberapa contoh yang mampu memberi sedikit gambaran mengenai pengertian ini:
  1. Mencinta tanpa pamrih itu serupa dengan dirimu yang bahagia ketika melihat teman dekatmu berkembang dengan sangat baik dalam seluruh kemampuannya, memiliki masa depan yang cerah, dan engkau adalah salah satu orang yang mendukungnya secara penuh. Lawan sikap yang demikian adalah iri hati melihat teman yang sukses dan berusaha menjegal dengan sekuat tenaga supaya mimpi-mimpi teman kita ini tidak tercapai.

  1. Mencinta tanpa pamrih itu serupa dengan dirimu yang tidak menyerah dalam berbuat baik kepada temanmu meski perlakuan yang kauterima darinya itu tidak menyenangkan. Bersabar dalam kondisi demikian ini merupakan keutamaan luar biasa yang dimiliki oleh seseorang. Lawan sikap yang demikian adalah lekas marah dan putus asa menghadapi perlakuan tidak mengenakkan dari teman.
                                                                                                                                                 
  1. Mencinta tanpa pamrih itu serupa dengan dirimu yang mau menerima kekurangan serta kelebihan teman-temanmu dan berani membentuk kerja sama yang baik atas semuanya itu. Mungkin, tim mu bukan yang terbaik dalam perlombaan atau pertandingan, tapi melihat semua teman menggunakan segala kemampuannya untuk mencapai tujuan bersama, itu merupakan kebahagiaan tersendiri bagi kamu. Lawan sikap demikian adalah egoisme aku-sentris dan suka menyalahkan orang lain atas suatu kesalahan tanpa mau mengoreksi diri sendiri.

  1. Mencinta tanpa pamrih itu serupa dengan dirimu yang mau mengalah demi kepentingan orang lain atau kepentingan yang lebih besar. Engkau tidak harus selalu mengalah atas semua hal. Tahu kapan harus mengalah dan mengambil suatu kesempatan adalah suatu kebijaksanaan yang mengagumkan. Lawan sikap demikian adalah mau menang sendiri tanpa peduli kepentingan orang lain di sekitar.

  1. Mencinta tanpa pamrih itu serupa dengan dirimu yang mampu memberikan kritik kepada teman dengan ungkapan dan dalam kesempatan yang tepat. Mengkritik dengan baik dan benar merupakan sebentuk seni hidup sosial yang harus dipelajari. Mengkritik dengan cara demikian inilah yang biasa disebut dengan istilah kritik yang membangun. Kritik yang membangun itu selain ditentukan dengan tujuannya, yakni demi kebaikan orang tersebut, juga ditentukan dengan caranya yang tepat. Lawan sikap demikian adalah kritik pedas yang ngawur dan bertujuan menghancurkan orang lain.

  1. Tantangan utama dalam mencinta tanpa pamrih ini adalah pengkhianatan. Bagaimana bila yang kita cinta ini berkhianat terhadap kita? Dalam situasi ini, saya juga tidak tahu harus menyatakan hal ikhwal apa. Tuhan sendiri bisa cemburu luar biasa dan marah besar ketika tahu anak-anak-Nya berkhianat atas cinta-Nya. Namun kita juga harus tahu bahwa di akhir amarah-Nya, Tuhan selalu membuka pintu hatinya untuk rekonsiliasi. Di sini, terlihat bahwa dalam pengkhianatan, selalu ada pengampunan.

Semoga melalui contoh-contoh di atas, kita dapat sedikit menangkap mengenai konsep mencinta tanpa pamrih ini. Contoh-contoh di atas dapat dikenakan pula dalam konteks hidup sebagai pasangan suami isteri atau kekasih. Prinsipnya tetap sama, yakni ikut ambil bagian dalam keberanian Tuhan yang mencinta kita sampai mati, melalui mencinta tanpa pamrih terhadap sesama.
Memang pada akhirnya, bentuk mencinta tanpa pamrih ini bisa mendatangkan kematian bila diterapkan secara radikal. Entah itu adalah kematian jiwa maupun raga. Berkurban kepentingan diri sampai sebegitu pahit dan perih demi kebahagiaan orang lain adalah bentuk kematian jiwa akibat berani mencinta tanpa pamrih. Sedang mengenai kematian jiwa dan raga, banyak orang kudus dalam Gereja Katolik telah meneladankan demikian, mengenai kerelaan untuk berkurban hingga akhir hayat demi sesamanya. Ada Bunda Teresa dari Kalkuta, Maria Goretti, Maximilianus Kolbe, Gianna Beretta Molla, dan masih banyak lagi. Bukankah mereka ini adalah teladan-teladan dengan keutamaan hidup yang luar biasa?
Kita adalah manusia modern yang sering kehilangan pegangan hidup; kesepian mendalam di tengah keramaian, kekeringan cinta dalam gelimpangan ungkapan luapan seksual nan erotis, serta kesedihan dan kegelisahan besar dalam pijar-pijar gemerlapnya hiburan dunia. Semakin banyak manusia memenuhi diri dengan cinta-cinta artifisial, maka semakin dalam dan lebar lubang cinta yang menganga dalam hatinya.
Manusia tidak akan mampu menutup lubang itu dengan cara mengambil sebanyak-banyaknya hal-hal dari luar dirinya. Justru dengan memberi diri sebanyak-banyaknya kepada sesama, maka lubang lebar nan menganga itu akan menutup dengan perlahan. Tuhan mengisinya sendiri dengan ganjaran kasih-Nya atas kemurahan hati kita.


Berdoalah lebih keras, bekerjalah lebih giat, dan berpasrahlah lebih lagi.
Demi kehidupan lebih baik di hari ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar