Perintah Magical May untuk hari keenam: “Tuliskan hal-hal
yang kamu syukuri atas pekerjaan/karir/sekolahmu dan doakan orang-orang yang
terlibat di dalamnya.“
Kalau boleh dikatakan bahwa
imam itu merupakan sebentuk profesi, maka persiapan dan pendidikan menjadi imam
adalah suatu proses pendidikan tersendiri yang harus saya syukuri. Ada beberapa
hal yang bisa saya tuliskan di sini berkaitan dengan rasa syukur saya atas
pendidikan imam yang saya terima selama di Malang.
Pertama, saya dididik di Seminari Tinggi
Interdiosesan Beato Giovanni XXIII.
Ada banyak seminari tinggi di malang.
Tetapi yang terbaik memang hanya Seminari
Tinggi Interdiosesan Beato Giovanni XXIII. Tidak ada yang lain. Jhahaha!!!
Sistem pendidikan yang memberi ruang yang luas bagi para calon imam untuk
mengatur waktunya sedemikian rupa dalam hidup keseharian adalah poin utama yang
tidak dimiliki oleh seminari-seminari tinggi lainnya.
Imam
diosesan biasa disebut imam kelas kambing atau imam kelas dua, di bawah
imam-imam non-diosesan. Tetapi setelah saya mengalami pendidikan di Giovanni,
saya menjadi semakin yakin bahwa identitas imam diosesan memanglah imam kelas
dua! Lho, kok? Namun harus
dipahami bahwa Imam kelas satunya adalah Yesus Kristus. Jadi, kami berada di urutan kedua setelah Yesus Kristus.
XD (Ini cuma guyonan lho ya, karena sebenarnya semua imam ya sama saja.)
Kedua, dosen-dosen saya di STFT Widya
Sasana Malang yang luar biasa.
Meski
saya sering minder karena kuliah di STFT Widya Sasana Malang yang tidak
terkenal di khalayak umum ini, namun saya boleh berbangga karena di sana saya
memiliki dosen-dosen handal berkaliber internasional. Dosen filsafat, teologi,
dan Kitab Suci yang mumpuni membuat saya berbesar kepala karena pernah diajar
oleh mereka. Dosen favorit saya ada 2. Mereka kebetulan sama-sama dosen Kitab
Suci, yakni Rm. Berthold Pareira, O.Carm., dan Rm. Pidyarto, O.Carm.
Penghormatan saya amat mendalam terhadap mereka. Tidak hanya mengajar materi
pelajaran, mereka mengajari banyak hal kepada saya berkaitan dengan iman dan hidup.
Ehm…, kalau anda pernah membaca buku Mitch
Albom yang berjudul Tuesdays with
Morrie, maka anda dapat membayangkan si Morrie
Schwartz itu seperti Rm. Pareira, dosen Kitab Suci Perjanjian Lama ini.
Ketiga,
teman-teman seminari dan kampus yang menakjubkan.
Teman-teman di seminari dan
kampus saya ini beraneka ragam latar belakang budaya, suku, kebiasaan, watak,
dsb. Perbedaannya juga tidak setengah-setengah, karena semua berasal dari
berbagai pulau di Indonesia, bahkan ada yang berasal dari luar negeri segala
seperti Cina (Ini orang Cina asli dan bukan KW) dan Malaysia (konon mereka dulu
adalah teman SD-nya Upin dan Ipin). Perjumpaan dan interaksi saya dengan mereka
memperkaya hidup saya. Perbedaan memang selalu ada, tetapi itu semua tidak
dijadikan sebagai pembeda, tetapi justru sebagai kekayaan. Bagi saya, pertemuan
saya dengan mereka adalah suatu rahmat menakjubkan dalam hidup saya. Senang boleh
berteman dengan mereka semua!!
Yah..., kurang lebih itulah
hal-hal yang dapat saya syukuri pada masa-masa ini, masa menjalani pendidikan
sebagai calon imam. Proses pendidikan yang terjadi ini selalu baik adanya.
Tinggal saya saja, apakah mampu melihat kebaikan dalam proses itu atau tidak, dan
sudah sejauh mana saya bekerja sama dengan CEO Ilahi hidup saya, a.k.a Tuhan,
dalam usaha-Nya membentuk saya menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke
hari. God is so good!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar