14 Mei 2012

IT'S NOT ABOUT THE MONEY, MONEY, MONEY


Perintah Magical May untuk hari kelima ini cukup menyusahkan bagi saya: Tuliskan 10 pencapaian finansialmu yang paling kamu syukuri: Aku bersyukur atas….., Terima kasih


Perintah hari kelima sangat menyudutkan saya! Dalam posisi saya sebagai calon imam yang dituntut hidup sederhana, penulisan mengenai pencapaian finansial secara gamblang ini bisa-bisa melukai hati banyak orang. Namun syukur kepada Allah, karena pencapaian finansial saya biasa-biasa saja, maka tidak ada yang tersakiti hatinya. Tidak ada yang spesial atau luar biasa, bahkan malah dapat disebut sengsara. Tetapi apa memang pantas bila saya menyebut diri saya sebagai orang yang sengsara? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya rumah, gaji bulanan, pekerjaan tetap, tabungan, dsb?
Haduh..., sudahlah! Pada akhirnya, meski pencapaian-pencapaian finansial saya ini sangat menyedihkan, saya harus selalu mensyukurinya. Dalam konteks pria selibat yang belum bekerja, jauh dari orang tua, ketiadaan tabungan di bank, dan ketiadaan jadwal kiriman rutin, maka daftar pencapaian finansial saya menjadi sedikit unik.
Berikut akan saya berikan cukup 3 besar saja, daftar pencapaian finansial saya. Alasannya bukan takut dicap sombong karena ke-besar-annya tadi, tetapi karena memang hampir tidak ada yang bisa dibanggakan selain yang ini. Inilah tiga daftar tersebut:
Pertama, tunjangan selibat sebesar 50 ribu sebulan.
Sebagai calon imam, kami setiap bulan selalu mendapat uang saku dari keuskupan atau kongregasi kami. Nominalnya macam-macam, antara 35 ribu sampai 100 ribu. Kalau kami, para calon imam diosesan yang studi di Malang, biasa mendapat uang saku 50 ribu per bulan. Uang saku ini biasa kami sebut sebagai tunjangan selibat. Sebagai kelakar, uang ini kami andaikan sebagai kompensasi bagi kami, para calon imam, yang diminta kerelaannya untuk selibat. Jadi bayangkan, betapa murahnya kompensasi yang kami dapat untuk selibat kami ini. Jhahaha!!! XD Walau demikian, saya tetap mensyukurinya. Kan ini lebih baik daripada tidak dapat sama sekali hayo?

Kedua, tabungan pribadi saya.
Salah satu pencapaian finansial saya yang mengagumkan adalah saya memiliki tabungan sendiri. Mungkin bagi orang lain, ini adalah hal yang biasa. Tetapi bagi saya, ini adalah hal yang mengagumkan mengingat saya tidak punya sumber keuangan yang stabil seperti gaji bulanan atau kiriman rutin dari orang tua. Uang yang datang ke saya selalu bersifat insidental, maksudnya ga tentu kapan waktunya. Maka saya pun harus pandai-pandai mengirit dan mengatur uang untuk dapat ditabung. Apa tujuan saya untuk menabung? Ada 2, yakni untuk jalan-jalan ber-travelling ria ke tempat-tempat yang baru nan jauh dan untuk kebutuhan-kebutuhan tak terduga di masa mendatang. Mungkin alasan kedua ini merupakan pemuasan kebutuhan saya akan rasa aman secara finansial. Tetapi jangan diandaikan uang saya ini banyak lho. Ga sampai sejuta. Itu pun saya titipkan di ibu saya, bukan di bank. XP Meski tabungan saya ini bahkan tidak mencukupi untuk menjadi uang muka kredit sepeda motor (konon menurut undang-undang mengenai pengaturan uang muka sepeda motor tahun 2012, uang muka sepeda motor adalah 30% dari harga tunai), namun saya tetap mensyukurinya. Ya…, masalah uang itu harus selalu disyukuri. Prinsipnya kan seperti tadi, selalu disyukuri daripada tidak ada sama sekali. XD

Ketiga, .... (Sudah ah, kayaknya mentok di sini!)

Maaf, yang tadinya minta 10, saya korting menjadi 3. Eh, kok ya malah jadi lebih parah lagi, cuma bisa menyebut 2. Ya maap!! Ya begini ini kalau saya disuruh ngomong masalah finansial, apalagi disuruh ngomong tentang pencapaian finansial, sangat menyedihkan untuk diketahui. Alasannya sederhana dan sudah saya jelaskan secara implisit di atas, bahwa saya sangat tidak bisa diandalkan dalam hal ini. Memang apa yang bisa diharapkan dari kemampuan finansial seorang calon imam? Tidak ada yang lain, kecuali ratap tangis dan kertak gigi belaka. Jhahaha!!! Wassalam dan terima kasih…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar