Perintah Magical May untuk hari kelima ini cukup
menyusahkan bagi saya: “Tuliskan 10
pencapaian finansialmu yang paling kamu syukuri: Aku bersyukur atas….., Terima kasih“
Perintah hari kelima sangat
menyudutkan saya! Dalam posisi saya sebagai calon imam yang dituntut hidup
sederhana, penulisan mengenai pencapaian finansial secara gamblang ini bisa-bisa
melukai hati banyak orang. Namun syukur kepada Allah, karena pencapaian
finansial saya biasa-biasa saja, maka tidak ada yang tersakiti hatinya. Tidak ada yang spesial atau luar biasa, bahkan
malah dapat disebut sengsara. Tetapi apa memang pantas bila saya menyebut diri
saya sebagai orang yang sengsara? Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak punya
rumah, gaji bulanan, pekerjaan tetap, tabungan, dsb?
Haduh..., sudahlah! Pada
akhirnya, meski pencapaian-pencapaian finansial saya ini sangat menyedihkan,
saya harus selalu mensyukurinya. Dalam konteks pria selibat yang belum bekerja,
jauh dari orang tua, ketiadaan tabungan di bank, dan ketiadaan jadwal kiriman
rutin, maka daftar pencapaian finansial saya menjadi sedikit unik.
Berikut akan saya berikan
cukup 3 besar saja, daftar pencapaian finansial saya. Alasannya bukan takut
dicap sombong karena ke-besar-annya tadi, tetapi karena memang hampir tidak ada yang bisa dibanggakan selain yang ini.
Inilah tiga daftar tersebut:
Pertama,
tunjangan selibat sebesar 50 ribu sebulan.
Sebagai calon imam, kami
setiap bulan selalu mendapat uang saku dari keuskupan atau kongregasi kami. Nominalnya
macam-macam, antara 35 ribu sampai 100 ribu. Kalau kami, para calon imam
diosesan yang studi di Malang, biasa mendapat uang saku 50 ribu per bulan. Uang
saku ini biasa kami sebut sebagai tunjangan selibat. Sebagai kelakar, uang ini kami
andaikan sebagai kompensasi bagi kami, para calon imam, yang diminta
kerelaannya untuk selibat. Jadi bayangkan, betapa murahnya kompensasi yang kami
dapat untuk selibat kami ini. Jhahaha!!! XD Walau demikian, saya tetap
mensyukurinya. Kan ini lebih baik daripada tidak dapat sama sekali hayo?
Kedua,
tabungan pribadi saya.
Salah satu pencapaian
finansial saya yang mengagumkan adalah saya memiliki tabungan sendiri. Mungkin
bagi orang lain, ini adalah hal yang biasa. Tetapi bagi saya, ini adalah hal
yang mengagumkan mengingat saya tidak punya sumber keuangan yang stabil seperti
gaji bulanan atau kiriman rutin dari orang tua. Uang yang datang ke saya selalu
bersifat insidental, maksudnya ga tentu kapan waktunya. Maka saya pun harus
pandai-pandai mengirit dan mengatur uang untuk dapat ditabung. Apa tujuan saya
untuk menabung? Ada 2, yakni untuk jalan-jalan ber-travelling ria ke
tempat-tempat yang baru nan jauh dan untuk kebutuhan-kebutuhan tak terduga di
masa mendatang. Mungkin alasan kedua ini merupakan pemuasan kebutuhan saya akan
rasa aman secara finansial. Tetapi jangan diandaikan uang saya ini banyak lho.
Ga sampai sejuta. Itu pun saya titipkan di ibu saya, bukan di bank. XP Meski tabungan
saya ini bahkan tidak mencukupi untuk menjadi uang muka kredit sepeda motor (konon
menurut undang-undang mengenai pengaturan uang muka sepeda motor tahun 2012,
uang muka sepeda motor adalah 30% dari harga tunai), namun saya tetap mensyukurinya.
Ya…, masalah uang itu harus selalu disyukuri. Prinsipnya kan seperti tadi,
selalu disyukuri daripada tidak ada sama sekali. XD
Ketiga,
.... (Sudah ah, kayaknya mentok di sini!)
Maaf,
yang tadinya minta 10, saya korting menjadi 3. Eh, kok ya malah jadi lebih
parah lagi, cuma bisa menyebut 2. Ya maap!! Ya begini ini kalau saya disuruh
ngomong masalah finansial, apalagi disuruh ngomong tentang pencapaian
finansial, sangat menyedihkan untuk diketahui. Alasannya sederhana dan sudah
saya jelaskan secara implisit di atas, bahwa saya sangat tidak bisa diandalkan
dalam hal ini. Memang apa yang bisa diharapkan dari kemampuan finansial seorang
calon imam? Tidak ada yang lain, kecuali ratap tangis dan kertak gigi belaka.
Jhahaha!!! Wassalam dan terima kasih…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar