08 Mei 2012

3 PERJUMPAAN MENAKJUBKAN


Perintah Magical May untuk hari ketiga ini sangat sederhana: “Pilih 3 hubungan terdekat atau yang paling berpengaruh untukmu. NO NEGATIVE COMMENT. Ucapkan terima kasih kepada Tuhan karena telah menciptakan mereka”.



Hubungan selalu mengandaikan perjumpaan terlebih dahulu. Tidak ada hubungan yang tidak disertai dengan perjumpaan. Dan perjumpaan inilah yang hendak saya bahas di sini.
Sesungguhnya, setiap perjumpaan dengan orang lain selalu memiliki pengaruh dalam hidup saya. Karena tidak mungkin suatu perjumpaan itu tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada hidup manusia. Namun memang menarik ketika saya diperintahkan untuk menyebut 3 perjumpaan dan hubungan paling berpengaruh dalam hidup saya. Oke, di titik ini, saya bisa menerima perintah ini dan akan menjawabnya. Dalam hal ini, saya akan menyebutkan 3 perjumpaan dan hubungan yang paling berpengaruh dalam hidup saya.


Pertama, perjumpaan dengan Tuhan.
Sekilas, saya seolah-olah memberikan jawaban klise dan kodian, yang jamak dijawab oleh orang-orang pada umumnya. Namun, tanpa berniat untuk mengikuti arus umum, tanpa berniat sok religius, atau berniat menyelamatkan muka karena saya adalah calon imam, saya mengakui dengan sepenuh hati pengaruh Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya. Bahwa saya bisa (dan terus berusaha) menjadi pribadi yang berpengharapan dan penuh kasih, merupakan bukti nyata bagaimana perjumpaan dengan Tuhan itu telah mengubah hidup saya.
Tuhan sendiri memang penuh dengan kasih setia. Sifat-Nya inilah yang saya suka. Makanya itu, saya selalu mengenang perjumpaan pertama saya dengan-Nya itu sebagai perjumpaan tak terlupakan. Dan sejak saat itu pula, saya bercita-cita ingin menjadi seperti Beliau juga, menjadi manusia yang penuh kasih dan setia. Terima kasih kepada Tuhan yang sudi berjalan bersama saya.

Kedua, perjumpaan dengan keluarga.
Ketika saya lahir, saya tidak dapat memilih untuk dilahirkan dalam keluarga macam apa; entah itu status sosialnya, tingkat kekayaannya, tingkat keharmonisannya, dsb. Semua itu seolah-olah diberikan secara acak, seacak Russian Roulette.
Tapi toh saya harus mengakui bahwa seacak apapun, kenyataannya saya ini sudah dilahirkan dalam keluarga yang paling tepat. Memang bukan yang terbaik di dunia, namun ini adalah keluarga yang paling tepat. Gambarannya mungkin seperti tanaman teh yang cocok dan tepat ketika ditanam di daerah dataran tinggi yang sejuk. Meski bisa jadi si tanaman teh itu merasa kedinginan, namun toh ia justru dapat bertumbuh dengan baik dalam kondisi itu. Kondisi inilah yang hendak saya syukuri dalam keluarga saya.
Sewaktu kecil, saya mungkin berharap saya dilahirkan dalam keluarga yang lebih baik dari yang saya miliki. Tetapi ketika dewasa, saya baru menyadari bahwa memang inilah keluarga yang paling saya butuhkan dan cintai. Dan saya menyesal, mengapa saya menyadarinya telat, yakni ketika saya sudah tidak bisa selalu tinggal lama di tengah-tengah mereka. Namun bagi saya tak jadi soal, karena lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Hehehe… Terima kasih kepada keluarga saya.

Ketiga, perjumpaan dengan semua orang yang mencintai saya.
Saya ini manusia hina, penuh dosa, dan kadang saya pikir, saya ini lebih baik tidak dilahirkan saja. Yah…, ini bukan sebentuk pesimistis total macam fatalisme, tetapi sekedar sebagai kesadaran diri atas keadaan ketidaksempurnaan saya sebagai manusia. Namun toh meski saya tidak sempurna, masih saja ada orang yang sudi mencintai saya.
Mereka menunjukkan cinta itu dengan caranya sendiri-sendiri; dengan berpengharapan, dengan memberi perhatian, dengan mendoakan, dan dengan banyak macam cara lain. Perjumpaan dengan mereka itulah yang membuat saya senantiasa merasa dikuatkan ketika harus menjalani hidup yang sukar. Apapun bentuk cinta yang mereka berikan, saya selalu menerima dan menghargainya secara mendalam.
Cinta itu seperti sebentuk doa. Ia tidak kelihatan tetapi sangat berdaya guna. Dan cInta yang tanpa pamrih itu benar-benar menghidupkan. Karena itu, orang paling menderita di dunia itu adalah orang yang sudah tidak memiliki siapapun untuk mencintainya (dan juga untuk dicintainya). Ia boleh saja sangat kaya, terkenal, dan berkuasa; tetapi sesungguhnya, ia mati dan menderita karena tidak memiliki cinta. Terima kasih kepada orang-orang yang telah mencintai saya.

Demikian 3 perjumpaan paling berahmat yang saya miliki. Ketiga perjumpaan itulah yang menjadi energi utama hidup saya hingga sekarang ini. Semoga anda pun memiliki perjumpaan-perjumpaan yang menggairahkan hidup sebagaimana yang saya miliki ini. Dan tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah membaca tulisan saya ini. Bagi saya, itu pun sebentuk perjumpaan. Anda berjumpa dengan saya, melalui tulisan saya. Terima kasih!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar