Perintah Magical May untuk hari ketiga ini
sangat sederhana: “Pilih 3 hubungan
terdekat atau yang paling berpengaruh untukmu. NO NEGATIVE COMMENT. Ucapkan
terima kasih kepada Tuhan karena telah menciptakan mereka”.
Hubungan selalu mengandaikan
perjumpaan terlebih dahulu. Tidak ada
hubungan yang tidak disertai dengan perjumpaan. Dan perjumpaan inilah yang
hendak saya bahas di sini.
Sesungguhnya, setiap perjumpaan dengan orang lain selalu
memiliki pengaruh dalam hidup saya. Karena tidak mungkin suatu perjumpaan itu
tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada hidup manusia. Namun memang menarik
ketika saya diperintahkan untuk menyebut 3 perjumpaan dan hubungan paling
berpengaruh dalam hidup saya. Oke, di titik ini, saya bisa menerima perintah ini
dan akan menjawabnya. Dalam hal ini, saya akan menyebutkan 3 perjumpaan dan
hubungan yang paling berpengaruh dalam hidup saya.
Pertama, perjumpaan
dengan Tuhan.
Sekilas, saya seolah-olah memberikan jawaban klise dan
kodian, yang jamak dijawab oleh orang-orang pada umumnya. Namun, tanpa berniat
untuk mengikuti arus umum, tanpa berniat sok religius, atau berniat
menyelamatkan muka karena saya adalah calon imam, saya mengakui dengan sepenuh
hati pengaruh Tuhan yang luar biasa dalam hidup saya. Bahwa saya bisa (dan
terus berusaha) menjadi pribadi yang berpengharapan dan penuh kasih, merupakan
bukti nyata bagaimana perjumpaan dengan Tuhan itu telah mengubah hidup saya.
Tuhan sendiri memang penuh dengan
kasih setia. Sifat-Nya inilah yang saya
suka. Makanya itu, saya selalu mengenang perjumpaan pertama saya dengan-Nya itu
sebagai perjumpaan tak terlupakan. Dan sejak saat itu pula, saya bercita-cita
ingin menjadi seperti Beliau juga, menjadi manusia yang penuh kasih dan setia.
Terima kasih kepada Tuhan yang sudi berjalan bersama saya.
Kedua, perjumpaan
dengan keluarga.
Ketika saya lahir, saya tidak dapat memilih untuk
dilahirkan dalam keluarga macam apa; entah itu status sosialnya, tingkat
kekayaannya, tingkat keharmonisannya, dsb. Semua itu seolah-olah diberikan
secara acak, seacak Russian Roulette.
Tapi toh saya harus mengakui bahwa seacak apapun, kenyataannya
saya ini sudah dilahirkan dalam keluarga yang paling tepat. Memang bukan yang
terbaik di dunia, namun ini adalah keluarga yang paling tepat. Gambarannya mungkin
seperti tanaman teh yang cocok dan tepat ketika ditanam di daerah dataran
tinggi yang sejuk. Meski bisa jadi si tanaman teh itu merasa kedinginan, namun toh
ia justru dapat bertumbuh dengan baik dalam kondisi itu. Kondisi inilah yang hendak saya syukuri dalam keluarga
saya.
Sewaktu kecil, saya mungkin berharap saya dilahirkan dalam
keluarga yang lebih baik dari yang saya miliki. Tetapi ketika dewasa, saya baru
menyadari bahwa memang inilah keluarga yang paling saya butuhkan dan cintai.
Dan saya menyesal, mengapa saya menyadarinya telat, yakni ketika saya sudah
tidak bisa selalu tinggal lama di tengah-tengah mereka. Namun bagi saya
tak jadi soal, karena lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Hehehe…
Terima kasih kepada keluarga saya.
Ketiga, perjumpaan
dengan semua orang yang mencintai saya.
Saya ini manusia hina, penuh dosa, dan kadang saya pikir,
saya ini lebih baik tidak dilahirkan saja. Yah…, ini bukan sebentuk pesimistis
total macam fatalisme, tetapi sekedar sebagai kesadaran diri atas keadaan
ketidaksempurnaan saya sebagai manusia. Namun toh meski saya tidak sempurna,
masih saja ada orang yang sudi mencintai saya.
Mereka
menunjukkan cinta itu dengan caranya sendiri-sendiri; dengan berpengharapan,
dengan memberi perhatian, dengan mendoakan, dan dengan banyak macam cara lain.
Perjumpaan dengan mereka itulah yang membuat saya senantiasa merasa dikuatkan
ketika harus menjalani hidup yang sukar. Apapun bentuk cinta yang mereka
berikan, saya selalu menerima dan menghargainya secara mendalam.
Cinta
itu seperti sebentuk doa. Ia tidak kelihatan tetapi sangat berdaya guna. Dan
cInta yang tanpa pamrih itu benar-benar menghidupkan. Karena itu, orang paling
menderita di dunia itu adalah orang yang sudah tidak memiliki siapapun untuk
mencintainya (dan juga untuk dicintainya). Ia boleh saja sangat kaya, terkenal,
dan berkuasa; tetapi sesungguhnya, ia mati dan menderita karena tidak memiliki
cinta. Terima kasih kepada orang-orang yang telah mencintai saya.
Demikian
3 perjumpaan paling berahmat yang saya miliki. Ketiga perjumpaan itulah yang
menjadi energi utama hidup saya hingga sekarang ini. Semoga anda pun memiliki
perjumpaan-perjumpaan yang menggairahkan hidup sebagaimana yang saya miliki
ini. Dan tak lupa saya ucapkan terima kasih kepada orang-orang yang telah
membaca tulisan saya ini. Bagi saya, itu pun sebentuk perjumpaan. Anda berjumpa
dengan saya, melalui tulisan saya. Terima kasih!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar