Perintah Magical May hari kedua ini agak rumit: “Cari batu (jenis apa saja) yang kamu anggap
bagus bentuknya dan nyaman dalam genggaman tangan kamu. Kamu bisa cari di
pinggir jalan, pinggir kolam, lalu cuci bersih batu pilihanmu. Tahu film
“Inception” kan? Genggam batu itu dan ingat-ingat apa pengalaman terbaik yang
kamu peroleh sepanjang hari ini. Mengapa pakai batu? Karena ada
bermilyar-milyar batu di kota kita, tapi mengapa batu itu yang terpilih oleh
kita? Nah, betapa panjang perjalanan batu itu untuk sampai ke tangan kita”.
The Talking Stone
Saya sudah mendapatkan batu itu. Tetapi ada beberapa pernyataan
yang haru saya ungkapkan berkaitan dengan perintah hari kedua ini. Pertama,
saya mengambil batu ini secara acak, tanpa menghiraukan apa bentuknya bagus
atau nyaman di genggaman saya. Kedua, saya tidak mencarinya di pinggir, tengah,
atau seberang jalan. Saya mengambilnya di sebuah bukit batu besar di suatu
tempat di Kediri, 6 tahun lalu. Dan yang ketiga, saya belum sempat liat film Inception. Sehingga saya tidak paham
secara jelas perintah itu.
Bagi saya, bukan saya yang memilih batu ini, melainkan
batu ini yang memilih saya. Saya pun bukanlah pihak ketiga yang memberi makna
baru bagi batu itu, melainkan memang batu itulah yang memiliki makna sedari
awalnya bagi saya. Dari sudut pandang filsafat, memang pernyataan terakhir saya
ini tidak mungkin, yakni suatu benda memiliki makna in se tanpa campur tangan manusia yang memaknainya. Tetapi saya
lebih suka memahaminya demikian; supaya ketika suatu hari saya melupakan makna
batu itu, batu itu tetap dapat menyuarakan frekuensi pesan sebagaimana saya
amini ketika mendapatkannya pertama kali. Jadi di sini, saya tidak hendak
berkisah mengenai batu saya itu sebagaimana perintah di atas. Saya hanya ingin
mengisahkan cerita mengenai batu yang sudah saya bawa-bawa sejak 6 tahun lalu,
serta makna yang ada di dalamnya.
Saya mendapatkan batu itu ketika 6 tahun lalu saya sedang live-in di Nglentreng, Kediri.
Nglentreng itu adalah dusun di atas desa Puhsarang, Kediri. Saat itu, saya
tinggal dalam rumah Pak Paniran. Panggilan beliau adalah Pak Ran. Pak Ran ini
adalah seorang pemecah batu. Beliau masih cukup muda, mungkin berusia 35 tahun.
Memang dusun Nglenterang ini dulu dikenal sebagai desa para pemecah batu karena
posisi desa yang dilewati sungai besar. Batu-batu besar di sungai itu dipecah
menjadi kecil-kecil, menjadi kerikil. Namun karena aktivitas itu membuat batu-batu
besar di sungai mulai habis dan sungai menjadi semakin lebar karena erosi, maka
penduduk setempat dilarang memecah batu sungai itu lagi. Penduduk desa pada
umumnya sudah meninggalkan pekerjaan itu. Namun tidak dengan Pak Ran. Beliau
tetap menjadi pemecah batu. Namun ia tidak memecah batu di sungai lagi, tetapi
memecah batu di bukit batu yang besar!
Dari Nglentreng, kami harus berkendara dengan sepeda motor
sejauh 1,5 jam. Dan setelah melihat bukit batu itu, saya rasanya mau pulang
saja karena pemandangannya cukup mengerikan. Bagaimana tidak, bukit batu itu
sebesar gedung luas berlantai 3. Belum lagi truk-truk besar yang parkir
berjajar menunggu giliran untuk mengambil batu yang sudah dipecah. Kalau di
sungai, batu sebesar kepalan tangan dipecah menjadi kecil-kecil. Tetapi di
sini, bukit batu besar itulah yang dipecah, untuk dijadikan batu sebesar layar
monitor, yang kemudian akan dipakai sebagai pondasi bangunan. Yaolo, mak!!!
Meski saya keder melihat suasana “pertambangan“ batu itu, saya
pun tetap harus maju dan ikut bekerja. Dengan memberanikan diri, saya
menawarkan diri dengan gagah perwira untuk mencoba memecah batu. Tapi ternyata,
aduh..., palu godam pemecah batu itu beratnya tidak main-main. Tehnik memecah
batu pun tidak sembarangan. Jadi, ketika palu godam yang berat itu coba saya
pakai selama setengah jam dengan tehnik sembarangan, batu-batu besar yang saya
pukul tidak bisa pecah dengan baik, malah justru menjadi pasir dan
kerikil-kerikil. Tentu, pasir dan serpihan batu itu tidak dapat menjadi duit.
Maka dengan rasa malu, saya berikan kembali palu godam itu kepada Pak Ran untuk
dipergunakan dengan baik dan benar. Walhasil, saya sepanjang hari hanya duduk
menunggu batu-batu itu dipecahkan, untuk kemudian mengangkat semuanya itu ke
atas truk yang membelinya. Siang itu
sangat terik sekali. Tetapi meski duduk menunggu, saya selalu duduk di dekat
Pak Ran bekerja, sambil sesekali ngobrol dengan beliau.
Selama duduk menunggu itulah, saya kemudian terbawa
lamunan kekaguman; membayangkan betapa gigih dan hebatnya kerja keras Pak Ran
dan teman-teman pemecah batu lainnya untuk mencari uang. Pekerjaan ini beresiko
tinggi karena bukit batu itu bisa longsor tanpa diduga-duga. Bukit batu yang
digerogoti sedemikian rupa menyimpan potensi untuk rubuh sewaktu-waktu. Belum
lagi tenaga yang harus dikeluarkan sepanjang hari, dari pagi sampai sore. Maka tak
heran kalau makan malam, porsi makan Pak Ran itu sangat luar biasa. Saya rasa,
itu memang sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan ketika bekerja.
Salah satu hal menakjubkan yang saya lihat di area pemecah
batu itu adalah, bagaimana batu sebesar lemari pakaian raksasa dapat
dipecah-pecah secara baik menjadi batu yang berukuran lebih kecil. Penataan dan
penanaman betel-betel kecil menjadi garis lurus dengan jarak tertentu, yang
kemudian mampu membelah batu raksasa itu dengan apik adalah hal ajaib yang
membuat saya terpana. Bagaimana mungkin, ternyata batu sebesar dan sekeras itu
dapat takluk di tangan manusia yang terlatih. Di sini, saya menjadi semakin
kagum dengan hidup para pemecah batu ini. Ah, sebenarnya mereka itu bukan
sekedar pemecah batu, melainkan penakluk alam dan hidup yang keras. Inilah
potret manusia sesungguhnya, yang berjuang keras bahkan sampai melebihi titik
batas yang dapat dibayangkan manusia.
Sebagai kenang-kenangan, saya ambil sebongkah batu hasil
pecahan Pak Ran itu. Saya ambil dengan maksud agar saya selalu teringat dengan
pengalaman perjumpaan dengan beliau. Ketika saya memandang batu itu, saya
selalu diingatkan mengenai makna perjuangan dan kerja keras dalam hidup. Manusia
pun seringkali mengalami masa-masa sukar dan berat. Bisa jadi persoalan tersebut terasa begitu berat dan keras seperti tebing
batu itu. Tetapi dengan keyakinan, kerja keras, dan usaha, pasti persoalan itu
dapat dipecahkan sebagaimana tebing batu itu pun pecah menjadi bongkahan-bongkahan
yang lebih kecil.
Yah…,
itulah kisah yang melatarbelakangi mengapa batu itu terus saya bawa kemana-mana
dan mengapa ia selalu bertengger di atas meja belajar saya. Sering saya
melupakan keberadaannya. Namun menarik bahwa ketika saya menerima sms mengenai Magical May hari kedua ini dan membaca
mengenai perintah “temukan salah satu batu”, mata saya langsung terantuk kepada
batu ini yang tepat berada di depan meja belajar saya. Entah mengapa mata saya
langsung bisa tertatap kepada batu itu, padahal meja belajar saya itu hancur
lebur bukan main dan morat-marit tidak karuan, sehingga melihat batu itu dalam
timbunan “sampah” meja belajar saya adalah suatu hal yang cukup tidak wajar. Ada
dua kemungkinan: Pertama, itu kebetulan. Kedua, batu itu berseru memanggil saya
secara telepatis, “Akulah batumu itu, Ted”. Namun tentu saja saya memilih
kemungkinan pertama. Karena mana ada batu bisa berbicara. Hanya orang gila yang
menyatakan demikian. Tetapi lain soal bila manusia yang berbicara dengan batu,
mungkin itu bukan kegilaan. Bukankah demikian, batuku? Hehehe…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar