07 Mei 2012

MENGOBROL DENGAN BATU


Perintah Magical May hari kedua ini agak rumit: “Cari batu (jenis apa saja) yang kamu anggap bagus bentuknya dan nyaman dalam genggaman tangan kamu. Kamu bisa cari di pinggir jalan, pinggir kolam, lalu cuci bersih batu pilihanmu. Tahu film “Inception” kan? Genggam batu itu dan ingat-ingat apa pengalaman terbaik yang kamu peroleh sepanjang hari ini. Mengapa pakai batu? Karena ada bermilyar-milyar batu di kota kita, tapi mengapa batu itu yang terpilih oleh kita? Nah, betapa panjang perjalanan batu itu untuk sampai ke tangan kita”.


The Talking Stone
Saya sudah mendapatkan batu itu. Tetapi ada beberapa pernyataan yang haru saya ungkapkan berkaitan dengan perintah hari kedua ini. Pertama, saya mengambil batu ini secara acak, tanpa menghiraukan apa bentuknya bagus atau nyaman di genggaman saya. Kedua, saya tidak mencarinya di pinggir, tengah, atau seberang jalan. Saya mengambilnya di sebuah bukit batu besar di suatu tempat di Kediri, 6 tahun lalu. Dan yang ketiga, saya belum sempat liat film Inception. Sehingga saya tidak paham secara jelas perintah itu.
Bagi saya, bukan saya yang memilih batu ini, melainkan batu ini yang memilih saya. Saya pun bukanlah pihak ketiga yang memberi makna baru bagi batu itu, melainkan memang batu itulah yang memiliki makna sedari awalnya bagi saya. Dari sudut pandang filsafat, memang pernyataan terakhir saya ini tidak mungkin, yakni suatu benda memiliki makna in se tanpa campur tangan manusia yang memaknainya. Tetapi saya lebih suka memahaminya demikian; supaya ketika suatu hari saya melupakan makna batu itu, batu itu tetap dapat menyuarakan frekuensi pesan sebagaimana saya amini ketika mendapatkannya pertama kali. Jadi di sini, saya tidak hendak berkisah mengenai batu saya itu sebagaimana perintah di atas. Saya hanya ingin mengisahkan cerita mengenai batu yang sudah saya bawa-bawa sejak 6 tahun lalu, serta makna yang ada di dalamnya.
Saya mendapatkan batu itu ketika 6 tahun lalu saya sedang live-in di Nglentreng, Kediri. Nglentreng itu adalah dusun di atas desa Puhsarang, Kediri. Saat itu, saya tinggal dalam rumah Pak Paniran. Panggilan beliau adalah Pak Ran. Pak Ran ini adalah seorang pemecah batu. Beliau masih cukup muda, mungkin berusia 35 tahun. Memang dusun Nglenterang ini dulu dikenal sebagai desa para pemecah batu karena posisi desa yang dilewati sungai besar. Batu-batu besar di sungai itu dipecah menjadi kecil-kecil, menjadi kerikil. Namun karena aktivitas itu membuat batu-batu besar di sungai mulai habis dan sungai menjadi semakin lebar karena erosi, maka penduduk setempat dilarang memecah batu sungai itu lagi. Penduduk desa pada umumnya sudah meninggalkan pekerjaan itu. Namun tidak dengan Pak Ran. Beliau tetap menjadi pemecah batu. Namun ia tidak memecah batu di sungai lagi, tetapi memecah batu di bukit batu yang besar!


Dari Nglentreng, kami harus berkendara dengan sepeda motor sejauh 1,5 jam. Dan setelah melihat bukit batu itu, saya rasanya mau pulang saja karena pemandangannya cukup mengerikan. Bagaimana tidak, bukit batu itu sebesar gedung luas berlantai 3. Belum lagi truk-truk besar yang parkir berjajar menunggu giliran untuk mengambil batu yang sudah dipecah. Kalau di sungai, batu sebesar kepalan tangan dipecah menjadi kecil-kecil. Tetapi di sini, bukit batu besar itulah yang dipecah, untuk dijadikan batu sebesar layar monitor, yang kemudian akan dipakai sebagai pondasi bangunan. Yaolo, mak!!!
Meski saya keder melihat suasana “pertambangan“ batu itu, saya pun tetap harus maju dan ikut bekerja. Dengan memberanikan diri, saya menawarkan diri dengan gagah perwira untuk mencoba memecah batu. Tapi ternyata, aduh..., palu godam pemecah batu itu beratnya tidak main-main. Tehnik memecah batu pun tidak sembarangan. Jadi, ketika palu godam yang berat itu coba saya pakai selama setengah jam dengan tehnik sembarangan, batu-batu besar yang saya pukul tidak bisa pecah dengan baik, malah justru menjadi pasir dan kerikil-kerikil. Tentu, pasir dan serpihan batu itu tidak dapat menjadi duit. Maka dengan rasa malu, saya berikan kembali palu godam itu kepada Pak Ran untuk dipergunakan dengan baik dan benar. Walhasil, saya sepanjang hari hanya duduk menunggu batu-batu itu dipecahkan, untuk kemudian mengangkat semuanya itu ke atas truk yang membelinya. Siang itu sangat terik sekali. Tetapi meski duduk menunggu, saya selalu duduk di dekat Pak Ran bekerja, sambil sesekali ngobrol dengan beliau.
Selama duduk menunggu itulah, saya kemudian terbawa lamunan kekaguman; membayangkan betapa gigih dan hebatnya kerja keras Pak Ran dan teman-teman pemecah batu lainnya untuk mencari uang. Pekerjaan ini beresiko tinggi karena bukit batu itu bisa longsor tanpa diduga-duga. Bukit batu yang digerogoti sedemikian rupa menyimpan potensi untuk rubuh sewaktu-waktu. Belum lagi tenaga yang harus dikeluarkan sepanjang hari, dari pagi sampai sore. Maka tak heran kalau makan malam, porsi makan Pak Ran itu sangat luar biasa. Saya rasa, itu memang sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan ketika bekerja.
Salah satu hal menakjubkan yang saya lihat di area pemecah batu itu adalah, bagaimana batu sebesar lemari pakaian raksasa dapat dipecah-pecah secara baik menjadi batu yang berukuran lebih kecil. Penataan dan penanaman betel-betel kecil menjadi garis lurus dengan jarak tertentu, yang kemudian mampu membelah batu raksasa itu dengan apik adalah hal ajaib yang membuat saya terpana. Bagaimana mungkin, ternyata batu sebesar dan sekeras itu dapat takluk di tangan manusia yang terlatih. Di sini, saya menjadi semakin kagum dengan hidup para pemecah batu ini. Ah, sebenarnya mereka itu bukan sekedar pemecah batu, melainkan penakluk alam dan hidup yang keras. Inilah potret manusia sesungguhnya, yang berjuang keras bahkan sampai melebihi titik batas yang dapat dibayangkan manusia.
Sebagai kenang-kenangan, saya ambil sebongkah batu hasil pecahan Pak Ran itu. Saya ambil dengan maksud agar saya selalu teringat dengan pengalaman perjumpaan dengan beliau. Ketika saya memandang batu itu, saya selalu diingatkan mengenai makna perjuangan dan kerja keras dalam hidup. Manusia pun seringkali mengalami masa-masa sukar dan berat. Bisa jadi persoalan tersebut terasa begitu berat dan keras seperti tebing batu itu. Tetapi dengan keyakinan, kerja keras, dan usaha, pasti persoalan itu dapat dipecahkan sebagaimana tebing batu itu pun pecah menjadi bongkahan-bongkahan yang lebih kecil.
Yah…, itulah kisah yang melatarbelakangi mengapa batu itu terus saya bawa kemana-mana dan mengapa ia selalu bertengger di atas meja belajar saya. Sering saya melupakan keberadaannya. Namun menarik bahwa ketika saya menerima sms mengenai Magical May hari kedua ini dan membaca mengenai perintah “temukan salah satu batu”, mata saya langsung terantuk kepada batu ini yang tepat berada di depan meja belajar saya. Entah mengapa mata saya langsung bisa tertatap kepada batu itu, padahal meja belajar saya itu hancur lebur bukan main dan morat-marit tidak karuan, sehingga melihat batu itu dalam timbunan “sampah” meja belajar saya adalah suatu hal yang cukup tidak wajar. Ada dua kemungkinan: Pertama, itu kebetulan. Kedua, batu itu berseru memanggil saya secara telepatis, “Akulah batumu itu, Ted”. Namun tentu saja saya memilih kemungkinan pertama. Karena mana ada batu bisa berbicara. Hanya orang gila yang menyatakan demikian. Tetapi lain soal bila manusia yang berbicara dengan batu, mungkin itu bukan kegilaan. Bukankah demikian, batuku? Hehehe…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar