Perintah
Magical May hari pertama ini sangat sederhana: “Tulis
10 hal yang kamu rasa pantas untuk kamu syukuri dalam hidupmu. Akhiri semua
dengan kata terima kasih sebanyak tiga kali”.
My 10 Small Miracles forgotten
Kalau membaca perintah hari pertama di atas, saya jadi
ingat seruan dari Mazmur 90: 15, yang bunyinya demikian, “Berilah kami kegembiraan seimbang dengan hari-hari penderitaan kami,
seimbang dengan kemalangan-kemalangan kami.” Doa si pemazmur ini sederhana.
Ia tidak meminta yang macam-macam, seperti bebas dari penderitaan hidup atau
mengalami kebahagiaan melulu sepanjang hidupnya. Yang ia pinta hanyalah
keseimbangan antara kegembiraan dan penderitaan dalam hidupnya. Titik!
Saya pun memiliki pinta dan harapan yang serupa dengan
pemazmur itu, yakni agar kegembiraan dan penderitaan itu terjadi seimbang dalam
hidup saya. Bila sudah terjadi demikian, maka cukuplah itu bagi saya. Dalam
konteks dunia yang penuh derita ini, lalu doa si pemazmur (dan saya) ini
membentuk logika demikian, bahwa penderitaan adalah suatu kewajaran dan
kegembiraan adalah suatu anugerah penghiburan tak terkira dari Allah. Konsekuensi
lebih lanjutnya lalu berbunyi begini, bahwa hal-hal kecil yang membahagiakan
pun sudah dapat saya rasakan sebagai anugerah Tuhan. Tidak perlu mobil mewah,
kapal pesiar, uang berjuta-juta di tangan, atau kesempatan liburan ke luar
negeri, untuk menunjukkan anugerah hidup yang pantas saya syukuri. Bahwa ketika
saya mencuci baju pada pagi hari, lalu sorenya pakaian saya itu sudah kering,
itu sudah merupakan hal yang patut saya syukuri.
Maka, sesungguhnya pertanyaan di atas itu agak aneh bagi
saya dan seolah-olah seperti kesia-siaan. Karena jangankan sepuluh, seratus
lebih pun saya bisa. Dan jangankan ditanya, tidak ditanyakan pun, saya akan
mengisahkannya. Jhahaha!!! Namun meski demikian, saya toh tetap akan memberikan
sepuluh daftar hal-hal yang patut saya syukuri. Ini adalah hal-hal remeh temeh
nan enteng sekali yang saya syukuri:
1. Big Cola seharga 3000 rupiah.
Ketika muncul pertama di minimarket, minuman ini cukup
booming. Tidak biasanya minuman
bersoda itu berharga semurah ini. Saya pun ikut membelinya, namun tidak
sesering teman-teman saya yang lain. Ketika saya bertanya kepada mbak kasir
minimarket yang manis itu, ternyata diceritakannya kalau peminat minuman ini
cukup banyak. Ya tentu saja, lha wong minuman bersoda sejenisnya tidak ada yang
banting harga semurah ini. Meski kita patut mencurigainya (ini minuman soda
atau temulawak rasa coca-cola ya?),
namun setidaknya banyak orang yang bergembira atas dikeluarkan merek ini.
Terima kasih! (3 kali)
2. Nasi goreng depan
seminari seharga 6000 rupiah.
Di depan seminari tempat
saya tinggal sekarang, ada rombong nasi goreng yang boleh dikatakan paling
murah sepanjang jalan sigura-gura Malang ini. Harganya enam ribu, tidak kurang
atau lebih. Lho, tapi tenang aja. Meski harganya murah, namun masih layak untuk
dimakan kok. Bahkan bisa dikatakan
rasanya
enak. Keberadaannya ini sangat membantu saya ketika saya merasa bosan dengan
menu makanan di seminari. Pasangan suami istri penjual nasi goreng ini memiliki
andil besar dalam menjaga mood saya ketika
mengalami kebosanan selama di seminari. Terima kasih! (3 kali)
3. Tarif angkot di Malang 2500 rupiah.
Tarif angkot di
Malang masih bersahabat. Biar BBM sudah naik beberapa kali, namun tarif angkot
di Malang masih tetap 2500. Sebagai perbandingan, tarif angkot di Surabaya saja
3000 rupiah. Maka sudah sepatutnya saya mensyukuri hal ini. Setidaknya, kalau
saya mau jalan-jalan keliling Malang sendirian dengan naik angkot, uang 10.000
saja sudah cukup. Karena murahnya ini, maka tak jarang saya memberi uang lebih
kepada pengemudi angkot. Terima kasih! (3 kali)
4. Adanya bis ac kelas ekonomi.
Lha, ini adalah angkutan umum favorit saya kalau mau
pulang ke Surabaya. Biasanya, saya sampai rela menunggu sampai 20 menit di
Terminal Arjosari untuk menunggu kedatangan patas kelas ekonomi ini. Untungnya
sih, setelah BBM naik, keberadaannya justru semakin banyak. Lumayan kan, dengan
harga bis ekonomi, saya dapat merasakan kualitas bis eksekutif yang ber-AC. Jhaha!!
Terima kasih! (3 kali)
5. Adanya persewaan komik baru dekat rumah saya.
Biasanya, kalau pulang
liburan di rumah, saya mengalami kebosanan luar biasa. Hampir tidak ada
kegiatan berarti, kecuali nonton TV dan otak-atik laptop. Namun syukur kepada
Allah, baru-baru ini dibuka persewaan komik di kompleks rumah saya. Sebagai
pembunuh waktu, membaca komik adalah pembunuh paling efektif. Dan sekali lagi
syukur kepada Allah, koleksi komiknya cukup lengkap. Kobo Chan, Kariage Kun,
Kungfu Komang, dan komik-komik lucu lainnya, cukup dikoleksi lengkap.
Jhahaha!!! Terima kasih! (3 kali)
6. Gencarnya promosi produk-produk kecantikan.
Gencarnya promosi
produk-produk kecantikan adalah salah satu hal yang harus saya syukuri. Karena
dengan demikian, semakin banyak jumlah perempuan cantik yang mudah ditemui di
tempat-tempat umum. Mengapa bisa demikian? Iklan-iklan itu secara tidak
langsung mendorong perempuan untuk tampil cantik sesuai kriteria iklan-iklan
mereka. Iklan sampo: rambut panjang dan indah; iklan pemutih kulit: kulit putih
adalah impian setiap pria; dst. Memang di satu sisi, propaganda kecantikan ini
sangat kejam bagi kaum perempuan. Tetapi sebagai laki-laki normal, saya harus
jujur kalau saya mendapat manfaat atas hal ini. Terima kasih! (3 kali) (maaf,
kalau ucapan terima kasih ini nuansanya agak sadis)
7. Tuhan saya tidak seperti Doraemon.
Doraemon itu bisa
dikatakan sebagai jenis “tuhan” favorit semua orang beriman. Coba kita lihat
saja beberapa ciri khas dalam filmnya: Pertama,
ia selalu memiliki cara untuk mewujudkan semua permintaan Nobita; Kedua, ia sangat lemah terhadap
rengekan Nobita; Ketiga, ia mudah
dibohongi oleh Nobita. Betapa menyenangkan memiliki tuhan seperti Doraemon! Semua
permintaan dan doa kita pasti akan dikabulkan dengan segera karena ia bahkan
tidak dapat membedakan ratap tangis kita itu palsu atau bukan. Namun syukur,
Tuhan saya tidak demikian. Meski kadang-kadang permintaan saya tidak dengan
segera dikabulkan, tetapi saya berani bersaksi kalau Ia selalu memberikan segala
sesuatu tepat pada waktunya. Terima
kasih! (3 kali)
Sesudah
menulis poin ketujuh, saya berpikir untuk mencukupkan diri dengan 7 contoh ini.
Tidak jadi sampai 10 sebagaimana diperintahkan dalam Magical May dan sebagaimana sudah saya janjikan di awal. 7 adalah angka sempurna,
yang biasanya disematkan pada Yang Ilahi. Maka, saya pun berniat mempersembahkan semua rasa syukur ini kepada Tuhan
yang telah memberikan semuanya ini.
Lho,
lalu bagaimana dengan 3 nomor selanjutnya? Yah…, silahkan pembaca melengkapinya
sendiri, sesuai dengan selera masing-masing. Setidaknya saya sudah mengangkat
paradigma mengenai hal remeh temeh yang patut namun sering lupa untuk disyukuri.
Kasihan, Tuhan sering dilupakan.
Akhirulkalam,
semoga kita semua tidak lupa untuk selalu bersyukur, bahkan atas hal-hal remeh
temeh yang ada di sekitar kita. Amin. Terima kasih! (3 kali)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar