07 Mei 2012

10 RAHMAT SEDERHANA YANG TERLUPAKAN


 Perintah Magical May hari pertama ini sangat sederhana: “Tulis 10 hal yang kamu rasa pantas untuk kamu syukuri dalam hidupmu. Akhiri semua dengan kata terima kasih sebanyak tiga kali”.


My 10 Small Miracles forgotten
Kalau membaca perintah hari pertama di atas, saya jadi ingat seruan dari Mazmur 90: 15, yang bunyinya demikian, “Berilah kami kegembiraan seimbang dengan hari-hari penderitaan kami, seimbang dengan kemalangan-kemalangan kami.” Doa si pemazmur ini sederhana. Ia tidak meminta yang macam-macam, seperti bebas dari penderitaan hidup atau mengalami kebahagiaan melulu sepanjang hidupnya. Yang ia pinta hanyalah keseimbangan antara kegembiraan dan penderitaan dalam hidupnya. Titik!
Saya pun memiliki pinta dan harapan yang serupa dengan pemazmur itu, yakni agar kegembiraan dan penderitaan itu terjadi seimbang dalam hidup saya. Bila sudah terjadi demikian, maka cukuplah itu bagi saya. Dalam konteks dunia yang penuh derita ini, lalu doa si pemazmur (dan saya) ini membentuk logika demikian, bahwa penderitaan adalah suatu kewajaran dan kegembiraan adalah suatu anugerah penghiburan tak terkira dari Allah. Konsekuensi lebih lanjutnya lalu berbunyi begini, bahwa hal-hal kecil yang membahagiakan pun sudah dapat saya rasakan sebagai anugerah Tuhan. Tidak perlu mobil mewah, kapal pesiar, uang berjuta-juta di tangan, atau kesempatan liburan ke luar negeri, untuk menunjukkan anugerah hidup yang pantas saya syukuri. Bahwa ketika saya mencuci baju pada pagi hari, lalu sorenya pakaian saya itu sudah kering, itu sudah merupakan hal yang patut saya syukuri.
Maka, sesungguhnya pertanyaan di atas itu agak aneh bagi saya dan seolah-olah seperti kesia-siaan. Karena jangankan sepuluh, seratus lebih pun saya bisa. Dan jangankan ditanya, tidak ditanyakan pun, saya akan mengisahkannya. Jhahaha!!! Namun meski demikian, saya toh tetap akan memberikan sepuluh daftar hal-hal yang patut saya syukuri. Ini adalah hal-hal remeh temeh nan enteng sekali yang saya syukuri:
                                               
1.       Big Cola seharga 3000 rupiah.
Ketika muncul pertama di minimarket, minuman ini cukup booming. Tidak biasanya minuman bersoda itu berharga semurah ini. Saya pun ikut membelinya, namun tidak sesering teman-teman saya yang lain. Ketika saya bertanya kepada mbak kasir minimarket yang manis itu, ternyata diceritakannya kalau peminat minuman ini cukup banyak. Ya tentu saja, lha wong minuman bersoda sejenisnya tidak ada yang banting harga semurah ini. Meski kita patut mencurigainya (ini minuman soda atau temulawak rasa coca-cola ya?), namun setidaknya banyak orang yang bergembira atas dikeluarkan merek ini. Terima kasih! (3 kali)

2.       Nasi goreng depan seminari seharga 6000 rupiah.
Di depan seminari tempat saya tinggal sekarang, ada rombong nasi goreng yang boleh dikatakan paling murah sepanjang jalan sigura-gura Malang ini. Harganya enam ribu, tidak kurang atau lebih. Lho, tapi tenang aja. Meski harganya murah, namun masih layak untuk dimakan kok. Bahkan bisa dikatakan rasanya enak. Keberadaannya ini sangat membantu saya ketika saya merasa bosan dengan menu makanan di seminari. Pasangan suami istri penjual nasi goreng ini memiliki andil besar dalam menjaga mood saya ketika mengalami kebosanan selama di seminari. Terima kasih! (3 kali)

3.       Tarif angkot di Malang 2500 rupiah.
Tarif angkot di Malang masih bersahabat. Biar BBM sudah naik beberapa kali, namun tarif angkot di Malang masih tetap 2500. Sebagai perbandingan, tarif angkot di Surabaya saja 3000 rupiah. Maka sudah sepatutnya saya mensyukuri hal ini. Setidaknya, kalau saya mau jalan-jalan keliling Malang sendirian dengan naik angkot, uang 10.000 saja sudah cukup. Karena murahnya ini, maka tak jarang saya memberi uang lebih kepada pengemudi angkot. Terima kasih! (3 kali)

4.       Adanya bis ac kelas ekonomi.
Lha, ini adalah angkutan umum favorit saya kalau mau pulang ke Surabaya. Biasanya, saya sampai rela menunggu sampai 20 menit di Terminal Arjosari untuk menunggu kedatangan patas kelas ekonomi ini. Untungnya sih, setelah BBM naik, keberadaannya justru semakin banyak. Lumayan kan, dengan harga bis ekonomi, saya dapat merasakan kualitas bis eksekutif yang ber-AC. Jhaha!! Terima kasih! (3 kali)
5.       Adanya persewaan komik baru dekat rumah saya.
Biasanya, kalau pulang liburan di rumah, saya mengalami kebosanan luar biasa. Hampir tidak ada kegiatan berarti, kecuali nonton TV dan otak-atik laptop. Namun syukur kepada Allah, baru-baru ini dibuka persewaan komik di kompleks rumah saya. Sebagai pembunuh waktu, membaca komik adalah pembunuh paling efektif. Dan sekali lagi syukur kepada Allah, koleksi komiknya cukup lengkap. Kobo Chan, Kariage Kun, Kungfu Komang, dan komik-komik lucu lainnya, cukup dikoleksi lengkap. Jhahaha!!! Terima kasih! (3 kali)

6.       Gencarnya promosi produk-produk kecantikan.
Gencarnya promosi produk-produk kecantikan adalah salah satu hal yang harus saya syukuri. Karena dengan demikian, semakin banyak jumlah perempuan cantik yang mudah ditemui di tempat-tempat umum. Mengapa bisa demikian? Iklan-iklan itu secara tidak langsung mendorong perempuan untuk tampil cantik sesuai kriteria iklan-iklan mereka. Iklan sampo: rambut panjang dan indah; iklan pemutih kulit: kulit putih adalah impian setiap pria; dst. Memang di satu sisi, propaganda kecantikan ini sangat kejam bagi kaum perempuan. Tetapi sebagai laki-laki normal, saya harus jujur kalau saya mendapat manfaat atas hal ini. Terima kasih! (3 kali) (maaf, kalau ucapan terima kasih ini nuansanya agak sadis)

7.       Tuhan saya tidak seperti Doraemon.
Doraemon itu bisa dikatakan sebagai jenis “tuhan” favorit semua orang beriman. Coba kita lihat saja beberapa ciri khas dalam filmnya: Pertama, ia selalu memiliki cara untuk mewujudkan semua permintaan Nobita; Kedua, ia sangat lemah terhadap rengekan Nobita; Ketiga, ia mudah dibohongi oleh Nobita. Betapa menyenangkan memiliki tuhan seperti Doraemon! Semua permintaan dan doa kita pasti akan dikabulkan dengan segera karena ia bahkan tidak dapat membedakan ratap tangis kita itu palsu atau bukan. Namun syukur, Tuhan saya tidak demikian. Meski kadang-kadang permintaan saya tidak dengan segera dikabulkan, tetapi saya berani bersaksi kalau Ia selalu memberikan segala sesuatu tepat pada waktunya. Terima kasih! (3 kali)

Sesudah menulis poin ketujuh, saya berpikir untuk mencukupkan diri dengan 7 contoh ini. Tidak jadi sampai 10 sebagaimana diperintahkan dalam Magical May dan sebagaimana sudah saya janjikan di awal. 7 adalah angka sempurna, yang biasanya disematkan pada Yang Ilahi. Maka, saya pun berniat mempersembahkan semua rasa syukur ini kepada Tuhan yang telah memberikan semuanya ini.
Lho, lalu bagaimana dengan 3 nomor selanjutnya? Yah…, silahkan pembaca melengkapinya sendiri, sesuai dengan selera masing-masing. Setidaknya saya sudah mengangkat paradigma mengenai hal remeh temeh yang patut namun sering lupa untuk disyukuri. Kasihan, Tuhan sering dilupakan.
Akhirulkalam, semoga kita semua tidak lupa untuk selalu bersyukur, bahkan atas hal-hal remeh temeh yang ada di sekitar kita. Amin. Terima kasih! (3 kali)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar