A story about the wrecking paper ship
Kapal kertas itu ketakutan. Ia takut tenggelam lalu karam. Baginya,
arus ini terlalu deras. Ia harus sekuat tenaga menghindari batu-batu besar
sungai, kayu terapung, jeram-jeram pusaran, serta percikan-percikan air yang lama-lama
bisa menenggelamkannya.
Meski sobek di sana-sini serta
bagian-bagiannya sudah melembap karena bersentuhan dengan air, namun ia terus
berjuang untuk dapat mencapai ujung sungai ini. Ia bercita-cita dapat mencapai
ujung sungai ini, sebuah pertemuan dengan laut dimana arusnya lebih tenang dan
airnya lebih luas.
Namun ketika kapal kertas itu
sudah mencapai ujung sungai, tempat pertemuan dengan laut, ia mendapati
kenyataan yang berbeda dengan segala mimpinya. Ternyata laut itu sangat dalam
dan menakutkan karena dasarnya gelap menyeramkan. Ini membuatnya takut melihat
ke bawah. Ia juga baru tahu bila air laut ternyata asin sehingga membuat luka-lukanya
yang terbuka terasa perih. Memang di laut sudah tidak ada lagi bahaya dari batu-batu
besar dan kayu serta sampah terapung di sungai yang sering menghantamnya.
Tetapi sebagai gantinya, ia menemui banyak binatang laut yang sering menubruk
atau menyerempet dirinya. Ubur-ubur dan ikan-ikan kecil sering melakukannya.
Alhasil, tidak lama kemudian
ia harus merelakan dirinya perlahan tenggelam. Ia tidak menyangka, ternyata laut
yang dikiranya bersahabat dengannya, justru membuatnya karam dengan cepat. Ia
harus mengubur dalam-dalam mimpinya seiring dengan dirinya yang tenggelam
semakin dalam ke dalam gelapnya laut. Eh tapi omong-omong, apa ya mimpi si kapal
kertas?
Kapal kertas ternyata tidak
memiliki mimpi. Ia hanyalah selembar kertas yang dilipat sedemikian rupa oleh
seseorang sehingga menjadi sebentuk kapal. Toh kalau dilipat sedemikian rupa
juga, ia dapat menjadi pesawat terbang, kodok-kodokan, atau mobil-mobilan.
Hanya “kebetulan“ saja kalau ia menjadi kapal. Namun bahwa ia tenggelam, itu
bukan suatu kebetulan. Itu adalah kenyataan.
Kita kembali lagi ke kapal
yang sudah setengah karam di lautan tadi. Ternyata di sisa-sisa usahanya tetap
mengambang, ia hanya sempat katakan demikian, “Tuhan, aku tahu kalau aku akan karam.
Namun di kehidupan selanjutnya, setidaknya berikanlah aku kesempatan untuk menjadi
kapal dengan jangkar raksasa. Agar kelak, meskipun aku karam, aku dapat karam
dengan gagah perkasa“. Tuhan pun tersenyum dengan permintaan berani si kapal
kertas yang sekarang benar-benar tenggelam karam itu.
Ia tersenyum-senyum sendiri
dan membayangkan, mungkin akan menarik kalau di kemudian hari, Putra-Nya
sendiri, akan menaiki si kapal kertas ini di tengah amukan badai yang
menggelora. Dan meski badai mengamuk setengah mati, namun si kapal kertas itu
tidak akan pernah karam dan seluruh penumpangnya akan selamat sampai tujuan. “Yah...,
sepertinya si kapal kertas itu juga tidak akan keberatan kalau Kubuat kisahnya
menjadi demikian.“ Maka, jadilah sesuai yang diharapkan! Le Voila!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar