04 Mei 2012

KISAH TENTANG KAPAL KERTAS YANG KARAM


               
A story about the wrecking paper ship
Kapal kertas itu ketakutan. Ia takut tenggelam lalu karam. Baginya, arus ini terlalu deras. Ia harus sekuat tenaga menghindari batu-batu besar sungai, kayu terapung, jeram-jeram pusaran, serta percikan-percikan air yang lama-lama bisa menenggelamkannya.
Meski sobek di sana-sini serta bagian-bagiannya sudah melembap karena bersentuhan dengan air, namun ia terus berjuang untuk dapat mencapai ujung sungai ini. Ia bercita-cita dapat mencapai ujung sungai ini, sebuah pertemuan dengan laut dimana arusnya lebih tenang dan airnya lebih luas.
Namun ketika kapal kertas itu sudah mencapai ujung sungai, tempat pertemuan dengan laut, ia mendapati kenyataan yang berbeda dengan segala mimpinya. Ternyata laut itu sangat dalam dan menakutkan karena dasarnya gelap menyeramkan. Ini membuatnya takut melihat ke bawah. Ia juga baru tahu bila air laut ternyata asin sehingga membuat luka-lukanya yang terbuka terasa perih. Memang di laut sudah tidak ada lagi bahaya dari batu-batu besar dan kayu serta sampah terapung di sungai yang sering menghantamnya. Tetapi sebagai gantinya, ia menemui banyak binatang laut yang sering menubruk atau menyerempet dirinya. Ubur-ubur dan ikan-ikan kecil sering melakukannya.
Alhasil, tidak lama kemudian ia harus merelakan dirinya perlahan tenggelam. Ia tidak menyangka, ternyata laut yang dikiranya bersahabat dengannya, justru membuatnya karam dengan cepat. Ia harus mengubur dalam-dalam mimpinya seiring dengan dirinya yang tenggelam semakin dalam ke dalam gelapnya laut. Eh tapi omong-omong, apa ya mimpi si kapal kertas?

Kapal kertas ternyata tidak memiliki mimpi. Ia hanyalah selembar kertas yang dilipat sedemikian rupa oleh seseorang sehingga menjadi sebentuk kapal. Toh kalau dilipat sedemikian rupa juga, ia dapat menjadi pesawat terbang, kodok-kodokan, atau mobil-mobilan. Hanya “kebetulan“ saja kalau ia menjadi kapal. Namun bahwa ia tenggelam, itu bukan suatu kebetulan. Itu adalah kenyataan.
Kita kembali lagi ke kapal yang sudah setengah karam di lautan tadi. Ternyata di sisa-sisa usahanya tetap mengambang, ia hanya sempat katakan demikian, “Tuhan, aku tahu kalau aku akan karam. Namun di kehidupan selanjutnya, setidaknya berikanlah aku kesempatan untuk menjadi kapal dengan jangkar raksasa. Agar kelak, meskipun aku karam, aku dapat karam dengan gagah perkasa“. Tuhan pun tersenyum dengan permintaan berani si kapal kertas yang sekarang benar-benar tenggelam karam itu.
Ia tersenyum-senyum sendiri dan membayangkan, mungkin akan menarik kalau di kemudian hari, Putra-Nya sendiri, akan menaiki si kapal kertas ini di tengah amukan badai yang menggelora. Dan meski badai mengamuk setengah mati, namun si kapal kertas itu tidak akan pernah karam dan seluruh penumpangnya akan selamat sampai tujuan. “Yah..., sepertinya si kapal kertas itu juga tidak akan keberatan kalau Kubuat kisahnya menjadi demikian.“ Maka, jadilah sesuai yang diharapkan! Le Voila!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar