28 April 2012

BERAGAMA ITU MEMBAHAYAKAN SESAMA



Having religion is danger for other
Suatu hari, saya dengan seorang teman berada dalam perjalanan dari Malang menuju Surabaya. Demi penghematan, kami menggunakan bis AC kelas ekonomi (saya penganut prinsip: hemat pangkal kaya dan enak pangkal paha. Lho?). Dalam perjalanan, kemudian naiklah seseorang dengan baju agamis dan membawa kotak sedekah. Seperti biasa, ia lalu membacakan doa-doa kepada Allah dan melafalkan ayat-ayat suci. Yah.., saya pun menyiapkan uang seadanya untuk dimasukkan ke kotak sedekah itu. Meski cara berdoanya berbeda dengan saya, namun saya selalu memberi penghormatan mendalam kepada mereka yang suka berbincang dengan Allah dan juga melafalkan ayat-ayat suci. Bukankah orang macam ini yang disebut sebagai orang suci, yang berdoa sepanjang hari tanpa henti-henti? Tentu, saya berpendapat demikian dengan catatan khusus, yakni dengan mengesampingkan segala niat dan motivasi tak tampak dari orang tersebut. Setidaknya, kenyataan itulah yang nampak kelihatan.
Namun tidak seperti orang sejenis yang biasanya hanya melafalkan doa dan ayat-ayat suci, ternyata orang ini juga menambahi pentasnya di dalam bis itu dengan semacam kotbah. Saya pikir, kreatif juga orang ini sebagai wirausahawan. Namun ketika sambil santai mendengar kotbahnya itu, tiba-tiba tenggorokan ini tercekat karena kaget, mata berkunang-kunang membayang, dan dada ini sesak sukar mengambil nafas. Secara perlahan, kumasukkan lagi genggaman uang di tanganku ke dalam kantong. Kuurungkan niatku untuk memberi uang tersebut. Persoalannya sederhana, karena saya dikutuk! Yaolo, Mak!!!
Bagaimana saya tidak berpikiran bahwa saya ini dikutuk, lha wong kotbahnya memiliki logika demikian: bahwa orang kafir pasti akan masuk neraka dan satu-satunya jalan untuk selamat dari siksa abadi neraka adalah dengan memeluk agamanya (kotbahnya tersendat-sendat, kesannya seperti sekedar hafalan, namun isinya tidak tanggung-tanggung karena sangat menyeramkan, menyudutkan, dan mengancam). Waduh, pernyataannya itu tidak main-main secara teologis. Dampaknya bisa sangat besar bagi saya mengingat syarat-syarat yang disebutkan terpenuhi semua dalam diri saya. Pertama, saya tidak memeluk agama yang sama dengan dia sehingga saya pantas disebut orang kafir yang pasti masuk neraka. Kedua, ternyata kondisi-kondisi yang ada sekarang ini tidak memungkinkan saya untuk meninggalkan agama saya dan memeluk agamanya tersebut sehingga dalam logika kotbahnya, saya ini memiliki kriteria yang cocok sebagai calon penghuni neraka permanen; seorang manusia tanpa harapan, yang sesudah mengalami penderitaan di dunia, akan juga mengalami penderitaan di alam baka. Bayangkan, betapa mengerikannya isi kotbah tersebut bagi saya!
Maka dalam perjalanan pulang ke Surabaya itu, saya kemudian berpikir-pikir mengenai pilihan agama saya. Apa saya ini telah memilih jalan yang keliru berkaitan dengan iman dan kepercayaan agama saya? Saya pun kemudian berusaha untuk memantapkan pilihan hati. Lho, tapi jangan salah sangka dulu lho! Saya ini tidak berusaha memantapkan hati untuk pindah agama, atau sebaliknya, untuk semakin memantapkan kepercayaan hati pada keselamatan dalam agama saya. Tetapi saya berpikir untuk memunculkan dan memantapkan alternatif ketiga, yakni untuk TIDAK BERAGAMA saja. Saya pikir, ini jauh lebih baik dari pilihan pertama dan kedua.
Tentu saya memiliki alasan yang memadai atas munculnya kemungkinan tersebut. Argumen saya demikian: ketika saya beragama, saya sesungguhnya masuk ke dalam laga perselisihan antar agama yang telah berlangsung selama berabad-abad untuk memperebutkan harga diri dan legitimasi kebenaran ilahi dengan patokan jumlah pengikut yang paling banyak. Prinsipnya demikian, semakin banyak pengikut, maka di situ kebenaran berada dan Allah berpihak.  
Dalam konteks demikian, maka yang terjadi adalah usaha tarik menarik antar kelompok agama tersebut terhadap manusia, juga terhadap saya. Bila saya menjadi penganut agama A, maka agama B, C, D, dst, akan menyerukan doktrin-doktrin kekeliruan agama A dan menawarkan keselamatan “sesungguhnya” dalam agama mereka. Sedang agama A sendiri akan membekali saya dengan pemahaman-pemahaman untuk mengokohkan iman dan menolak pengaruh-pengaruh agama B, C, D, dst. Pola ini pun akan berulang ketika saya mengikuti agama B, C, D, dst. Lihat, bagaimana saya tidak capek dengan semua ini? Dan mungkin selain saya, ada banyak juga manusia yang capek, bosan, dan letih beragama.
Kondisi ini bisa dibayangkan seperti ketika anda sedang memegang sebotol MIZONE yang baru saja anda beli dari seorang SPG yang luar biasa cantiknya, tetapi tiba-tiba muncul pedagang asongan terminal yang terus mendesak anda dengan gagah berani dan tak kenal menyerah untuk membeli POCARI SWEAT dagangannya. SPG itu pun tak kalah sewot menanggapi pedagang asongan tersebut sehingga mereka pun ribut di hadapan anda. Dan akhirnya, karena saking jengkelnya, anda buang botol MIZONE itu, anda usir penjaja asongan dan si SPG cantik luar biasa itu, dan anda beranjak pergi untuk minum AIR KERAN dari ponten umum terdekat. Meski anda tahu air keran itu tidak selezat, sehigienis, dan seprestisius MIZONE atau POCARI SWEAT, tapi toh anda tetap dapat melegakan dahaga anda dengan minum air keran tersebut tanpa harus dibingungkan dengan pemikiran: lebih enak minum MIZONE atau POCARI SWEAT ya? Jhaha!! XD
Begitulah logika sederhana yang saya pakai untuk memunculkan kemungkinan pilihan alternatif untuk tidak beragama. Maka bila anda dibingungkan dan direpotkan pada pilihan untuk tetap setia pada agama anda atau berpindah keyakinan yang dirasa lebih baik, sebagaimana bingung memilih MIZONE atau POCARI SWEAT, mulai sekarang coba pikirkanlah kemungkinan alternatif ketiga, yakni untuk TIDAK BERAGAMA saja. Saya kira, logika sederhana ini pula yang sering dipakai para atheis di berbagai belahan dunia, yang sudah bosan dengan pertikaian antar agama selama berabad-abad dalam hidup manusia. Memang sangat miris mendengarnya, ketika agama-agama yang mengusahakan perdamaian bagi dunia, justru menjadi alasan utama bagi manusia untuk saling membunuh dan menyakiti sesamanya.
Yah.., saya akhiri di sini tulisan saya ini. Saya takut kalau diteruskan panjang lebar, saya dapat dituduh macam-macam: yakni berusaha menyesatkan banyak umat beriman dan mempropagandakan hidup tanpa agama dalam masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi sila pertama, Ketuhanan Yang Mahaesa. Ah iya, namun sebelum saya menutup tulisan ini, saya hendak berpesan kepada anda. Kalau anda menemui pria pendoa yang saleh dan dekat dengan tuhan itu, dan kalau anda mendengar kotbah yang sama, maka titipkan salam saya kepadanya. Tolong ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya karena telah membuka mata saya yang selama ini belum terbuka lebar atau masih kriyep-kriyep. Melalui dirinya, saya baru sadar ternyata inilah salah satu alasan mengapa bangsa Indonesia masih terus bergumul dengan konfilk-konflik kekerasan atas nama agama. Ternyata, karena orang-orang dengan pemikiran seperti dialah, maka bangsa Indonesia tidak bisa bersatu, bersahabat, dan bergandengan tangan demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Maka, bila sebelumnya saya dikutuk karena saya kafir, sekarang saya gantian mengutuk mereka. Kutukan pertama-tama bukan ditujukan kepada mereka yang mengamini konsep itu, melainkan kepada mereka yang mengajarkan dan menyebarkannya! Anathema sit!
Akhirulkalam, selamat menimbang-nimbang, mereka-reka, memikir-mikir, dan memutus-mutus(kan). Semoga tiada penyesalan dan penyesatan setelah membaca tulisan saya ini. Eh, saya hampir saja lupa untuk memberitahukan kalau akhirnya, dengan segala rendah hati, saya mengambil lagi MIZONE yang saya buang tadi. Rugi, isinya masih banyak. Lagipula, air keran dari ponten umum itu rasanya anyir-anyir amis. Hehehe…

Sesudah pulang lagi ke Malang, 26 April 2012
Sembari mendengarkan lagunya John Lennon, “Imagine”.
…Imagine there is no religion,…

N.B.: Saya membuat tulisan ini dengan beberapa catatan: Pertama, mengabaikan status saya sebagai calon imam secara ketat. Kedua, mengabaikan perbedaan antara penghayatan beragama dan beriman. Ketiga, mengabaikan hati dan perasaan mereka yang terluka bila membaca tulisan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar