Having religion is danger for other
Suatu hari, saya dengan seorang teman berada dalam perjalanan
dari Malang menuju Surabaya. Demi penghematan, kami menggunakan bis AC kelas
ekonomi (saya penganut prinsip: hemat pangkal kaya dan enak pangkal paha. Lho?).
Dalam perjalanan, kemudian naiklah
seseorang dengan baju agamis dan membawa kotak sedekah. Seperti biasa, ia lalu
membacakan doa-doa kepada Allah dan melafalkan ayat-ayat suci. Yah.., saya pun
menyiapkan uang seadanya untuk dimasukkan ke kotak sedekah itu. Meski cara
berdoanya berbeda dengan saya, namun saya selalu memberi penghormatan mendalam
kepada mereka yang suka berbincang dengan Allah dan juga melafalkan ayat-ayat
suci. Bukankah orang macam ini yang disebut sebagai orang suci, yang berdoa
sepanjang hari tanpa henti-henti? Tentu, saya berpendapat demikian dengan catatan
khusus, yakni dengan mengesampingkan segala niat dan motivasi tak tampak dari
orang tersebut. Setidaknya, kenyataan itulah yang nampak kelihatan.
Namun tidak seperti
orang sejenis yang biasanya hanya melafalkan doa dan ayat-ayat suci, ternyata orang
ini juga menambahi pentasnya di dalam bis itu dengan semacam kotbah. Saya
pikir, kreatif juga orang ini sebagai wirausahawan. Namun ketika sambil santai
mendengar kotbahnya itu, tiba-tiba tenggorokan ini tercekat karena kaget, mata
berkunang-kunang membayang, dan dada ini sesak sukar mengambil nafas. Secara
perlahan, kumasukkan lagi genggaman uang di tanganku ke dalam kantong. Kuurungkan
niatku untuk memberi uang tersebut. Persoalannya sederhana, karena saya
dikutuk! Yaolo, Mak!!!
Bagaimana saya tidak berpikiran
bahwa saya ini dikutuk, lha wong kotbahnya
memiliki logika demikian: bahwa orang kafir pasti akan masuk neraka dan
satu-satunya jalan untuk selamat dari siksa abadi neraka adalah dengan memeluk
agamanya (kotbahnya tersendat-sendat, kesannya seperti sekedar hafalan, namun
isinya tidak tanggung-tanggung karena sangat menyeramkan, menyudutkan, dan
mengancam). Waduh, pernyataannya itu tidak
main-main secara teologis. Dampaknya bisa sangat besar bagi saya mengingat
syarat-syarat yang disebutkan terpenuhi semua dalam diri saya. Pertama, saya tidak memeluk agama yang
sama dengan dia sehingga saya pantas disebut orang kafir yang pasti masuk
neraka. Kedua, ternyata
kondisi-kondisi yang ada sekarang ini tidak memungkinkan saya untuk meninggalkan
agama saya dan memeluk agamanya tersebut sehingga dalam logika kotbahnya, saya ini
memiliki kriteria yang cocok sebagai calon penghuni neraka permanen; seorang
manusia tanpa harapan, yang sesudah mengalami penderitaan di dunia, akan juga
mengalami penderitaan di alam baka. Bayangkan, betapa mengerikannya isi kotbah
tersebut bagi saya!
Maka dalam perjalanan
pulang ke Surabaya itu, saya kemudian berpikir-pikir mengenai pilihan agama
saya. Apa saya ini telah memilih jalan yang keliru berkaitan dengan iman dan
kepercayaan agama saya? Saya pun kemudian berusaha untuk memantapkan pilihan
hati. Lho, tapi jangan salah sangka dulu lho! Saya ini tidak berusaha
memantapkan hati untuk pindah agama, atau sebaliknya, untuk semakin memantapkan
kepercayaan hati pada keselamatan dalam agama saya. Tetapi saya berpikir untuk memunculkan
dan memantapkan alternatif ketiga, yakni untuk TIDAK BERAGAMA saja. Saya pikir,
ini jauh lebih baik dari pilihan pertama dan kedua.
Tentu saya memiliki
alasan yang memadai atas munculnya kemungkinan tersebut. Argumen saya demikian:
ketika saya beragama, saya sesungguhnya masuk ke dalam laga perselisihan antar
agama yang telah berlangsung selama berabad-abad untuk memperebutkan harga diri
dan legitimasi kebenaran ilahi dengan patokan jumlah pengikut yang paling
banyak. Prinsipnya demikian, semakin banyak pengikut, maka di situ kebenaran
berada dan Allah berpihak.
Dalam konteks
demikian, maka yang terjadi adalah usaha tarik menarik antar kelompok agama
tersebut terhadap manusia, juga terhadap saya. Bila saya menjadi penganut agama
A, maka agama B, C, D, dst, akan menyerukan doktrin-doktrin kekeliruan agama A
dan menawarkan keselamatan “sesungguhnya” dalam agama mereka. Sedang agama A
sendiri akan membekali saya dengan pemahaman-pemahaman untuk mengokohkan iman
dan menolak pengaruh-pengaruh agama B, C, D, dst. Pola ini pun akan berulang
ketika saya mengikuti agama B, C, D, dst. Lihat, bagaimana saya tidak capek
dengan semua ini? Dan mungkin selain saya, ada banyak juga manusia yang capek,
bosan, dan letih beragama.
Kondisi ini bisa
dibayangkan seperti ketika anda sedang memegang sebotol MIZONE yang baru saja
anda beli dari seorang SPG yang luar biasa cantiknya, tetapi tiba-tiba muncul pedagang
asongan terminal yang terus mendesak anda dengan gagah berani dan tak kenal
menyerah untuk membeli POCARI SWEAT dagangannya. SPG itu pun tak kalah sewot
menanggapi pedagang asongan tersebut sehingga mereka pun ribut di hadapan anda.
Dan akhirnya, karena saking jengkelnya, anda buang botol MIZONE itu, anda usir
penjaja asongan dan si SPG cantik luar biasa itu, dan anda beranjak pergi untuk
minum AIR KERAN dari ponten umum terdekat. Meski anda tahu air keran itu tidak selezat,
sehigienis, dan seprestisius MIZONE atau POCARI SWEAT, tapi toh anda tetap dapat
melegakan dahaga anda dengan minum air keran tersebut tanpa harus dibingungkan
dengan pemikiran: lebih enak minum MIZONE atau POCARI SWEAT ya? Jhaha!! XD
Begitulah logika sederhana
yang saya pakai untuk memunculkan kemungkinan pilihan alternatif untuk tidak
beragama. Maka bila anda dibingungkan dan direpotkan pada pilihan untuk tetap
setia pada agama anda atau berpindah keyakinan yang dirasa lebih baik,
sebagaimana bingung memilih MIZONE atau POCARI SWEAT, mulai sekarang coba
pikirkanlah kemungkinan alternatif ketiga, yakni untuk TIDAK BERAGAMA saja. Saya
kira, logika sederhana ini pula yang sering dipakai para atheis di berbagai
belahan dunia, yang sudah bosan dengan pertikaian antar agama selama
berabad-abad dalam hidup manusia. Memang sangat miris mendengarnya, ketika
agama-agama yang mengusahakan perdamaian bagi dunia, justru menjadi alasan
utama bagi manusia untuk saling membunuh dan menyakiti sesamanya.
Yah.., saya akhiri di sini tulisan saya ini. Saya takut kalau
diteruskan panjang lebar, saya dapat dituduh macam-macam: yakni berusaha
menyesatkan banyak umat beriman dan mempropagandakan hidup tanpa agama dalam
masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi sila pertama, Ketuhanan Yang
Mahaesa. Ah iya, namun sebelum saya menutup
tulisan ini, saya hendak berpesan kepada anda. Kalau anda menemui pria pendoa
yang saleh dan dekat dengan tuhan itu, dan kalau anda mendengar kotbah yang
sama, maka titipkan salam saya kepadanya. Tolong ucapkan terima kasih
sebanyak-banyaknya karena telah membuka mata saya yang selama ini belum terbuka
lebar atau masih kriyep-kriyep. Melalui
dirinya, saya baru sadar ternyata inilah salah satu alasan mengapa bangsa
Indonesia masih terus bergumul dengan konfilk-konflik kekerasan atas nama
agama. Ternyata, karena orang-orang dengan pemikiran seperti dialah, maka bangsa
Indonesia tidak bisa bersatu, bersahabat, dan bergandengan tangan demi mencapai
kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Maka, bila sebelumnya saya dikutuk karena
saya kafir, sekarang saya gantian mengutuk mereka. Kutukan pertama-tama bukan
ditujukan kepada mereka yang mengamini konsep itu, melainkan kepada mereka yang
mengajarkan dan menyebarkannya! Anathema
sit!
Akhirulkalam, selamat menimbang-nimbang, mereka-reka,
memikir-mikir, dan memutus-mutus(kan). Semoga
tiada penyesalan dan penyesatan setelah membaca tulisan saya ini. Eh, saya hampir
saja lupa untuk memberitahukan kalau akhirnya, dengan segala rendah hati, saya
mengambil lagi MIZONE yang saya buang tadi. Rugi, isinya masih banyak. Lagipula,
air keran dari ponten umum itu rasanya anyir-anyir amis. Hehehe…
Sesudah pulang lagi ke Malang,
26 April 2012
Sembari mendengarkan lagunya
John Lennon, “Imagine”.
…Imagine there is no religion,…
N.B.: Saya membuat tulisan ini dengan beberapa catatan: Pertama, mengabaikan status saya
sebagai calon imam secara ketat. Kedua,
mengabaikan perbedaan antara penghayatan beragama dan beriman. Ketiga, mengabaikan hati dan perasaan
mereka yang terluka bila membaca tulisan ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar