Beberapa saat lalu, ada rekan perempuan yang mengungkapkan
ketidak-terimaannya kepada saya. Ia jengkel dengan seorang pria yang
mengungkapkan kepadanya mengenai keharusan baginya untuk bersyukur menjadi perempuan.
Pria tersebut menyatakan alasan betapa rekan perempuan saya ini harus
bersyukur, karena hanya bermula dari rahim perempuan saja, kehidupan manusia
bermula.
Perkataan pria tersebut memang benar. Toh kehidupan manusia
tidak tercipta karena adanya fasilitas bangunan megah bak istana, ruang rumah
sakit mewah klas VIP, laboratorium canggih bertaraf internasional, atau istana
presiden dengan keamanan super ketat. Kehidupan
itu justru terjadi dalam ruang sekian kali sekian sentimeter (maaf, saya tidak
tahu ukuran pasnya), yang gelap, lembab, namun hangat dan penuh kasih sayang
(eh, maaf lagi. Entri penuh kasih sayang ini bukan sesuatu yang mutlak. Ini
masih merupakan opsi bagi para perempuan). Jadi, memang benar jika perempuan
harus bersyukur atas kemampuannya untuk mengandung kehidupan. Ini adalah
sebentuk keajaiban ciptaan dalam diri perempuan. Dalam hal ini, saya setuju
dengan perkataan rekan pria dari rekan perempuan saya ini.
Tapi toh, justru hal
ini yang hendak disanggah oleh rekan perempuan saya ini. Katanya, “Lho memang
enak dipikirnya menjadi perempuan itu, apalagi ketika dihubungkan dengan
kemampuan alamiahnya untuk mengandung? Itu hal yang tidak enak!! Betapa
menderitanya menjadi perempuan mengandung. Pipi menjadi setembem bakpao panas,
perut menjadi berat dan besar karena si jabang bayi mulai bertumbuh kembang, lemak
menempel di sana sini, kaki ikut membengkak, dsb., dst., dll. Aku jelas tidak
terima dengan ketidak-adilan ini. Lha wong pas bikinnya aja kerja sama antara
laki-laki dan perempuan kok, eh malah sekarang yang harus banyak menderita akhirnya
si perempuan. Jelas-jelas tidak terima aku. Ini ketidak-adilan kodrati yang
harus disampaikan kepada Tuhan!” Demikian cerocos rekanku berapi-api, yang
kupikir juga ada benarnya. Toh Tuhan itu konon laki-laki, makanya bisa saja dia
menciptakan perempuan secara diskriminatif gender dengan segala kelemahan
kodratinya. Saya sih tidak terlalu ambil pusing dengan semua itu. Saya tahu ada
kebenaran dalam perkataan rekan pria dari rekan perempuan ku, namun saya tahu
bahwa ada kebenaran pula dalam gugatan rekan perempuanku ini tadi.
Perempuan sebagai
ciptaan yang luar biasa memiliki segi-segi keindahan yang lebih luas dari itu. Dibanding
laki-laki dan menurut pandangan saya sebagai laki-laki, perempuan memiliki keanggunan
sikap yang khas seperti macan betina liar, sifat penyayang yang hangat seperti sinar
matahari pertama sehabis hujan badai, keluwesan tubuh seperti ilalang yang
ditiup angin ke sana kemari, cara bicara yang semarak seperti kicau burung di
pagi hari, tatapan mata yang syahdu layaknya pesona matahari senja di sore hari,
kekuatan batin yang luar biasa sekokoh pohon jati ratusan tahun. Dan masih ada
banyak hal yang mampu membuat laki-laki tertarik kepada perempuan, yang belum
tersampaikan di sini. God, how great Thou
art!
Lalu, apakah itu
semua sudah cukup bagi perempuan untuk bersyukur dan berbangga atas dirinya
sendiri? Di titik inilah, perempuan memiliki pilihan untuk bagaimana mereka
memandang dirinya sendiri. Sebagai sebuah keindahan ciptaan kah atau sebagai
sebuah kesalahan ciptaan? Memilih dalam hal ini adalah sesuatu yang sangat
sukar karena harus diakui, masyarakat yang patriarkis telah mendiskreditkan
kaum perempuan dengan hebat selama berabad-abad sehingga menimbulkan stigma
bahwa menjadi perempuan adalah suatu kutukan, sebuah kesalahan. Dan kutukan selama
berabad-abad ini tentu tidak dapat lenyap dengan mudah dalam hitungan hari,
bulan, tahun, atau dasawarsa. Perempuan selama sekian lama telah dianggap
sebagai sekedar mesin penghasil keturunan, alat pemuas kebutuhan seks
laki-laki, kelompok pekerja yang bisa dibayar murah, kelompok masyarakat yang
tidak memiliki suara politik, suatu kenajisan dalam agama akibat darah siklus
menstruasi, dsb., dst.
Entah berapa
keturunan harus dilewati untuk mengusir semua stigma ini. Tapi harus disadari
bahwa masih ada harapan untuk suatu perubahan bagi perempuan. Hanya saja kaum
perempuan harus memiliki keberanian untuk bersama bermimpi melihat masa depan
yang demikian ini. Karena seperti John Lennon pernah katakan, a dream you dream alone is only a dream, a
dream you dream together is a reality.
Ya…., sayangnya sesudah
menyatakan keluh kesahnya itu, rekan perempuan saya itu harus segera pulang
karena sudah malam. Ia pun akhirnya tidak sempat mendengarkan argumen panjang
kali lebar saya ini, yang hendak menyatakan betapa ia harus bersyukur dan
berbangga menjadi perempuan. Tapi toh, keluhannya saat itu merupakan bentuk
lain dari caranya berjuang untuk menggapai mimpi itu. Melalui keluhannya, ia
memprotes rekan laki-lakinya yang dengan mudah menyatakan betapa ia harus bersyukur
menjadi perempuan. Bisa saja ucapan rekan laki-lakinya itu sekedar merupakan ungkapan
politik etis dari masyarakat patriarkis, tanpa ada pengakuan eksistensialis terlebih
dahulu atas penderitaan yang telah dialami kaum perempuan selama berabad-abad. Bila
memang demikian, nasehat rekan laki-lakinya lalu merupakan omong kosong belaka.
Dan layak bagi rekan perempuan saya ini untuk melayangkan protesnya.
Semoga, rekan
perempuan saya akhirnya membaca tulisan ini. Oh tidak! Semoga tidak hanya ia
saja yang membaca, tetapi sebanyak mungkin perempuan. Sehingga dengan demikian,
semakin banyak perempuan pula yang mulai bermimpi atau setidaknya
berangan-angan untuk memiliki masa depan dan pengakuan yang lebih baik atas identitas
mereka sebagai perempuan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar