12 Maret 2012

MENGAPA BERSYUKUR DAN BERBANGGA MENJADI PEREMPUAN?



Beberapa saat lalu, ada rekan perempuan yang mengungkapkan ketidak-terimaannya kepada saya. Ia jengkel dengan seorang pria yang mengungkapkan kepadanya mengenai keharusan baginya untuk bersyukur menjadi perempuan. Pria tersebut menyatakan alasan betapa rekan perempuan saya ini harus bersyukur, karena hanya bermula dari rahim perempuan saja, kehidupan manusia bermula.
Perkataan pria tersebut memang benar. Toh kehidupan manusia tidak tercipta karena adanya fasilitas bangunan megah bak istana, ruang rumah sakit mewah klas VIP, laboratorium canggih bertaraf internasional, atau istana presiden dengan keamanan super ketat. Kehidupan itu justru terjadi dalam ruang sekian kali sekian sentimeter (maaf, saya tidak tahu ukuran pasnya), yang gelap, lembab, namun hangat dan penuh kasih sayang (eh, maaf lagi. Entri penuh kasih sayang ini bukan sesuatu yang mutlak. Ini masih merupakan opsi bagi para perempuan). Jadi, memang benar jika perempuan harus bersyukur atas kemampuannya untuk mengandung kehidupan. Ini adalah sebentuk keajaiban ciptaan dalam diri perempuan. Dalam hal ini, saya setuju dengan perkataan rekan pria dari rekan perempuan saya ini.
Tapi toh, justru hal ini yang hendak disanggah oleh rekan perempuan saya ini. Katanya, “Lho memang enak dipikirnya menjadi perempuan itu, apalagi ketika dihubungkan dengan kemampuan alamiahnya untuk mengandung? Itu hal yang tidak enak!! Betapa menderitanya menjadi perempuan mengandung. Pipi menjadi setembem bakpao panas, perut menjadi berat dan besar karena si jabang bayi mulai bertumbuh kembang, lemak menempel di sana sini, kaki ikut membengkak, dsb., dst., dll. Aku jelas tidak terima dengan ketidak-adilan ini. Lha wong pas bikinnya aja kerja sama antara laki-laki dan perempuan kok, eh malah sekarang yang harus banyak menderita akhirnya si perempuan. Jelas-jelas tidak terima aku. Ini ketidak-adilan kodrati yang harus disampaikan kepada Tuhan!” Demikian cerocos rekanku berapi-api, yang kupikir juga ada benarnya. Toh Tuhan itu konon laki-laki, makanya bisa saja dia menciptakan perempuan secara diskriminatif gender dengan segala kelemahan kodratinya. Saya sih tidak terlalu ambil pusing dengan semua itu. Saya tahu ada kebenaran dalam perkataan rekan pria dari rekan perempuan ku, namun saya tahu bahwa ada kebenaran pula dalam gugatan rekan perempuanku ini tadi.
         Saya sendiri harus mengakui betapa kaum perempuan harus berbangga dan bersyukur atas identitas keperempuanannya, yakni karena betapa luar biasa kemampuan mereka untuk mengandung dan memberi penghidupan melalui susunya. Titik! Andai laki-laki memiliki kemampuan serupa, tentu saya tidak akan segan mencintai dan menikah dengan sesama laki-laki. Sayangnya dan sekaligus syukur kepada Allah, secara kodrati tidak ada laki-laki yang memiliki kemampuan demikian. Namun keluar-biasaan kemampuan mengandung dalam diri perempuan yang saya kemukakan ini tidak hendak mendiskreditkan para perempuan yang karena satu atau dua hal, kemudian tidak bisa, tidak memilih, atau tidak memiliki kesempatan untuk mengandung.
Perempuan sebagai ciptaan yang luar biasa memiliki segi-segi keindahan yang lebih luas dari itu. Dibanding laki-laki dan menurut pandangan saya sebagai laki-laki, perempuan memiliki keanggunan sikap yang khas seperti macan betina liar, sifat penyayang yang hangat seperti sinar matahari pertama sehabis hujan badai, keluwesan tubuh seperti ilalang yang ditiup angin ke sana kemari, cara bicara yang semarak seperti kicau burung di pagi hari, tatapan mata yang syahdu layaknya pesona matahari senja di sore hari, kekuatan batin yang luar biasa sekokoh pohon jati ratusan tahun. Dan masih ada banyak hal yang mampu membuat laki-laki tertarik kepada perempuan, yang belum tersampaikan di sini. God, how great Thou art!
Lalu, apakah itu semua sudah cukup bagi perempuan untuk bersyukur dan berbangga atas dirinya sendiri? Di titik inilah, perempuan memiliki pilihan untuk bagaimana mereka memandang dirinya sendiri. Sebagai sebuah keindahan ciptaan kah atau sebagai sebuah kesalahan ciptaan? Memilih dalam hal ini adalah sesuatu yang sangat sukar karena harus diakui, masyarakat yang patriarkis telah mendiskreditkan kaum perempuan dengan hebat selama berabad-abad sehingga menimbulkan stigma bahwa menjadi perempuan adalah suatu kutukan, sebuah kesalahan. Dan kutukan selama berabad-abad ini tentu tidak dapat lenyap dengan mudah dalam hitungan hari, bulan, tahun, atau dasawarsa. Perempuan selama sekian lama telah dianggap sebagai sekedar mesin penghasil keturunan, alat pemuas kebutuhan seks laki-laki, kelompok pekerja yang bisa dibayar murah, kelompok masyarakat yang tidak memiliki suara politik, suatu kenajisan dalam agama akibat darah siklus menstruasi, dsb., dst.
Entah berapa keturunan harus dilewati untuk mengusir semua stigma ini. Tapi harus disadari bahwa masih ada harapan untuk suatu perubahan bagi perempuan. Hanya saja kaum perempuan harus memiliki keberanian untuk bersama bermimpi melihat masa depan yang demikian ini. Karena seperti John Lennon pernah katakan, a dream you dream alone is only a dream, a dream you dream together is a reality.
Ya…., sayangnya sesudah menyatakan keluh kesahnya itu, rekan perempuan saya itu harus segera pulang karena sudah malam. Ia pun akhirnya tidak sempat mendengarkan argumen panjang kali lebar saya ini, yang hendak menyatakan betapa ia harus bersyukur dan berbangga menjadi perempuan. Tapi toh, keluhannya saat itu merupakan bentuk lain dari caranya berjuang untuk menggapai mimpi itu. Melalui keluhannya, ia memprotes rekan laki-lakinya yang dengan mudah menyatakan betapa ia harus bersyukur menjadi perempuan. Bisa saja ucapan rekan laki-lakinya itu sekedar merupakan ungkapan politik etis dari masyarakat patriarkis, tanpa ada pengakuan eksistensialis terlebih dahulu atas penderitaan yang telah dialami kaum perempuan selama berabad-abad. Bila memang demikian, nasehat rekan laki-lakinya lalu merupakan omong kosong belaka. Dan layak bagi rekan perempuan saya ini untuk melayangkan protesnya.
Semoga, rekan perempuan saya akhirnya membaca tulisan ini. Oh tidak! Semoga tidak hanya ia saja yang membaca, tetapi sebanyak mungkin perempuan. Sehingga dengan demikian, semakin banyak perempuan pula yang mulai bermimpi atau setidaknya berangan-angan untuk memiliki masa depan dan pengakuan yang lebih baik atas identitas mereka sebagai perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar