TENTANG DERET KATA
Bahasa Indonesia enak dibuat mainan.
Karena saya bukan ahli dalam berbahasa Indonesia, apalagi saya tidak menempuh
pendidikan yang berkaitan dengan hal ini, maka dengan santai saja saya bisa bereksperimen
dengan kata. Eksperimen kali ini mengenai kata-kata yang disambung menjadi satu deret,
yakni deret kata. Sesungguhnya, saya sudah sempat berbincang dan bermain dengan
KBBI cetakan ke-3 pada tulisan saya sebelumya, yakni “Main Kata“. Tapi bentuknya masih kacau. Pada main kata 2 ini, saya
sedikit merapikannya.
Pola
pikir saya sederhana, bila di luar sana ada deret angka, mengapa saya tidak
membuat deret kata? Namun ada peraturan mendasar dalam deret kata ini, yakni suku
kata terakhir dalam kata yang mendahului harus bisa dilanjutkan dengan suku
kata awal dalam kata berikut. Sesungguhnya permainan ini tidak menarik dan
tidak membuktikan apa-apa. Tidak ada hal baru di dalamnya. Tapi saya ini ada
dalam usaha mencari celah eksperimen dalam bermain-main kata. Toh tidak ada
pakem dalam bahasa Indonesia yang melarang demikian. Wasyallom...
pagilangsungkantongkatabrakita
pagi
gila langsung sungkan kantong tongkat kata ta(bra)k rakit kita
batuhancurangkakakidallihai
batu tuhan hancur curang rangka kakak kaki kidal
dalih lihai
lautarambutahutangkilangkacau
laut utara rambut buta tahu hutang
tangki kilang langka kacau
anjinggalauyatimbulumpianongkrong
anjing jingga galau lauya yatim timbul
bulu lumpia piano nongkrong
parasukambingunggaharumbainah
paras
rasuk suka kambing bingung unggah gahar harum rumbai bainah
P.S.:
Lauya berarti
mediator yang menghubungkan dunia kasar dengan dunia halus. KBBI edisi ketiga
hal 645.
Bainah berarti
bukti yang nyata; bidang arkeologi. KBBI edisi ketiga hal 91.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar