TENTANG
HURUF BESAR
Dulu saya pernah dimarahi oleh
seorang pembina saya di seminari tahun rohani di malang. Saya dirasa tidak berpendidikan
cukup dalam berbahasa Indonesia. Pasalnya, saya saat itu dianggap telah
mengumpulkan tugas refleksi yang tidak benar. Hasil refleksi memang tidak mengenal benar atau salah, tapi yang saya
maksud dengan tidak benar adalah cara saya menuliskannya. Saat itu yang menjadi
persoalan baginya adalah, saya tidak menulis kata Tuhan, Allah, dan Yesus dengan awalan huruf besar. Jadi
saya menuliskan, ketiga kata itu sekedar demikian: tuhan, allah, yesus. Dan
karena itu, saya dipanggil, diceramahi panjang lebar, dan kredibilitas
pendidikan seminari menengah saya di garum dipertanyakan. Nama guru bahasa indonesia
sma saya ditanya, seolah-olah ingin tahu guru macam apa yang telah gagal
mendidik saya untuk memahami prinsip dasar awalan huruf besar yang sedemikian
jamak diketahui itu. Saat itu, saya malu.
Saya malu bukan karena
harga diri saya serasa direndahkan. Saya malu karena telah membuat nama almamater
seminari menengah saya disepelekan dan nama guru bahasa indonesia saya yang saya
kagumi disetarakan dengan guru yang tidak mampu mendidik murid. Padahal, kekeliruan
ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka. Saya mendapat pendidikan
berbahasa yang sangat baik dan cukup ketika sma.
Lalu bila
demikian, mengapa saya bisa jatuh pada kesalahan penulisan yang mendasar seperti
itu? Ah, saya sendiri tidak pernah menyebutnya sebagai kesalahan. Ini
cuma pemberontakan. Lho, memang betul kan, pernahkah kita bertanya: mengapa ada
kata-kata tertentu yang dalam penulisannya harus diawali dengan huruf besar? Seperti
nama negara, nama kota, nama orang, nama orang-orang penting, nama lokasi
tertentu, dst. Terlalu merepotkan, diskriminatif bahkan.
Yah…, saya pun tidak mau ambil
pusing dengan menjawab pertanyaan itu secara sistematis. Percuma dijawab dengan
argumen macam-macam, toh bila ditilik dari pakem aturan berbahasa Indonesia
yang baik dan benar dengan ejaan yang disempurnakan a.k.a eyd, semua argumen
saya itu bisa mentah. Tidak ada diskusi,
tidak ada toleransi. Ya bisa dikatakan mirip dengan cara kerja dogma dalam gereja
katolik yang merupakan harga mati. (Ups!)
Maka daripada
berargumen ria, lebih baik saya bereksperimen ria. Dan akhirnya terjadilah
seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, bahwa saya menulis dan
mengumpulkan refleksi dengan sengaja melalaikan aturan huruf besar itu. Saya
sendiri tidak bermaksud mencobai pembina saya tersebut. Niat saya murni
bermain-main. Namun bagi pembina saya, main-main saya ini keterlaluan karena
mencerminkan kebodohan. Hah..., ya sudahlah, saya terima saja labelisasi bodoh
itu. Toh saya tidak dirugikan apa-apa karenanya. Dilawan juga tidak mungkin.
Masa saya mau melawan pembina saya? Bisa-bisa saya dikeluarkan dari seminari. Walahualam....
Teman-teman, pesan apa yang hendak saya sampaikan melalui kisah saya ini? Secara
khusus sih, tidak ada. Sekali lagi, saya pun tidak menganjurkan anda lalai
untuk menuliskan beberapa kata dalam bahasa indonesia yang harus diawali dengan
huruf besar. Mengapa, tentu karena anda akan dicap bodoh dan tidak berpendidikan. Namun
dibalik kisah ini, saya hanya hendak mengajak anda bertanya pada kemapanan dan berpikir
alternatif. Tidak semuanya yang sudah ditentukan itu harus ditaati secara buta.
Anda manusia dan berhak bertanya, serta menggugat. Namun harus diakui bahwa
sering sekali sistem yang ada justru mematikan potensi bertanya dan menggugat,
seperti yang saya alami di atas. Namun jangan khawatir karena anda masih punya
kebebasan suara dan kata. Kebebasan suara dan kata itulah yang dapat digunakan
sebagai alat perlawanan sistem yang menekan. Kebebasan ini sekaligus menjadi
pembeda yang jelas antara anda sebagai manusia atau sebagai benda atau binatang
yang tidak memiliki inisiatif dan kebebasan berpikir.
Sistem politik macam komunisme,
otoriarian suatu pemerintahan, tiranisme ilahiah agama, adalah beberapa contoh
sistem yang hobi mengekang kebebasan manusia dalam berpikir dan bersuara. Sistem
demikian ini menghambat aktualisasi manusia secara penuh. Syukur kepada allah,
gereja katolik masih memberi ruang terbuka bagi angin perubahan yang dinamis,
kepada roh kudus yang menghidupkan dan memberi harapan.
Pengalaman
kecil saya itu tidak menarik, tapi cukup membekas bagi diri saya. Membekas
secara positif. Akhirnya setelah lepas dari seminari tahun rohani, saya pun
tetap dapat melanjutkan eksperimen itu dengan bebas seperti dalam tulisan ini.
Sadarkah anda bahwa sejak dari awal, saya tidak pernah menggunakan huruf besar
di tengah kalimat? Kalau anda terganggu, mungkin seperti itulah perasaan
pembina saya. Cukup menjengkelkan bukan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar