05 Maret 2012

MAIN KATA 3


  
TENTANG HURUF BESAR
                Dulu saya pernah dimarahi oleh seorang pembina saya di seminari tahun rohani di malang. Saya dirasa tidak berpendidikan cukup dalam berbahasa Indonesia. Pasalnya, saya saat itu dianggap telah mengumpulkan tugas refleksi yang tidak benar. Hasil refleksi memang tidak mengenal benar atau salah, tapi yang saya maksud dengan tidak benar adalah cara saya menuliskannya. Saat itu yang menjadi persoalan baginya adalah, saya tidak menulis kata Tuhan, Allah, dan Yesus dengan awalan huruf besar. Jadi saya menuliskan, ketiga kata itu sekedar demikian: tuhan, allah, yesus. Dan karena itu, saya dipanggil, diceramahi panjang lebar, dan kredibilitas pendidikan seminari menengah saya di garum dipertanyakan. Nama guru bahasa indonesia sma saya ditanya, seolah-olah ingin tahu guru macam apa yang telah gagal mendidik saya untuk memahami prinsip dasar awalan huruf besar yang sedemikian jamak diketahui itu. Saat itu, saya malu.
         Saya malu bukan karena harga diri saya serasa direndahkan. Saya malu karena telah membuat nama almamater seminari menengah saya disepelekan dan nama guru bahasa indonesia saya yang saya kagumi disetarakan dengan guru yang tidak mampu mendidik murid. Padahal, kekeliruan ini tidak ada kaitannya sama sekali dengan mereka. Saya mendapat pendidikan berbahasa yang sangat baik dan cukup ketika sma.
Lalu bila demikian, mengapa saya bisa jatuh pada kesalahan penulisan yang mendasar seperti itu? Ah, saya sendiri tidak pernah menyebutnya sebagai kesalahan. Ini cuma pemberontakan. Lho, memang betul kan, pernahkah kita bertanya: mengapa ada kata-kata tertentu yang dalam penulisannya harus diawali dengan huruf besar? Seperti nama negara, nama kota, nama orang, nama orang-orang penting, nama lokasi tertentu, dst. Terlalu merepotkan, diskriminatif bahkan.

            Yah…, saya pun tidak mau ambil pusing dengan menjawab pertanyaan itu secara sistematis. Percuma dijawab dengan argumen macam-macam, toh bila ditilik dari pakem aturan berbahasa Indonesia yang baik dan benar dengan ejaan yang disempurnakan a.k.a eyd, semua argumen saya itu bisa mentah. Tidak ada diskusi, tidak ada toleransi. Ya bisa dikatakan mirip dengan cara kerja dogma dalam gereja katolik yang merupakan harga mati. (Ups!)
                Maka daripada berargumen ria, lebih baik saya bereksperimen ria. Dan akhirnya terjadilah seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, bahwa saya menulis dan mengumpulkan refleksi dengan sengaja melalaikan aturan huruf besar itu. Saya sendiri tidak bermaksud mencobai pembina saya tersebut. Niat saya murni bermain-main. Namun bagi pembina saya, main-main saya ini keterlaluan karena mencerminkan kebodohan. Hah..., ya sudahlah, saya terima saja labelisasi bodoh itu. Toh saya tidak dirugikan apa-apa karenanya. Dilawan juga tidak mungkin. Masa saya mau melawan pembina saya? Bisa-bisa saya dikeluarkan dari seminari. Walahualam....
                Teman-teman, pesan apa yang hendak saya sampaikan melalui kisah saya ini? Secara khusus sih, tidak ada. Sekali lagi, saya pun tidak menganjurkan anda lalai untuk menuliskan beberapa kata dalam bahasa indonesia yang harus diawali dengan huruf besar. Mengapa, tentu karena anda akan dicap bodoh dan tidak berpendidikan. Namun dibalik kisah ini, saya hanya hendak mengajak anda bertanya pada kemapanan dan berpikir alternatif. Tidak semuanya yang sudah ditentukan itu harus ditaati secara buta. Anda manusia dan berhak bertanya, serta menggugat. Namun harus diakui bahwa sering sekali sistem yang ada justru mematikan potensi bertanya dan menggugat, seperti yang saya alami di atas. Namun jangan khawatir karena anda masih punya kebebasan suara dan kata. Kebebasan suara dan kata itulah yang dapat digunakan sebagai alat perlawanan sistem yang menekan. Kebebasan ini sekaligus menjadi pembeda yang jelas antara anda sebagai manusia atau sebagai benda atau binatang yang tidak memiliki inisiatif dan kebebasan berpikir.
                Sistem politik macam komunisme, otoriarian suatu pemerintahan, tiranisme ilahiah agama, adalah beberapa contoh sistem yang hobi mengekang kebebasan manusia dalam berpikir dan bersuara. Sistem demikian ini menghambat aktualisasi manusia secara penuh. Syukur kepada allah, gereja katolik masih memberi ruang terbuka bagi angin perubahan yang dinamis, kepada roh kudus yang menghidupkan dan memberi harapan.
Pengalaman kecil saya itu tidak menarik, tapi cukup membekas bagi diri saya. Membekas secara positif. Akhirnya setelah lepas dari seminari tahun rohani, saya pun tetap dapat melanjutkan eksperimen itu dengan bebas seperti dalam tulisan ini. Sadarkah anda bahwa sejak dari awal, saya tidak pernah menggunakan huruf besar di tengah kalimat? Kalau anda terganggu, mungkin seperti itulah perasaan pembina saya. Cukup menjengkelkan bukan?
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar