Aku punya teman. Cita-citanya ingin menjadi satpam.
Aku tak tahu kenapa. Dia pun tidak memberi
alasan.
Aku masih heran.
Saat semua ingin menjadi mapan, rupawan, dan menjadi pusat
perhatian,
Ia justru ingin menjadi satpam. Semoga dia sadar apa yang dia omongkan.
Sebenarnya siapa sih yang ingin jadi satpam? Mungkin para
satpam sendiri pun tidak pernah berpikir demikian. Bila mereka pun memutuskan
demikian, mungkin karena tidak ada pilihan.
Namun, ditambahkannya, “Aku ingin menjadi satpam di
katedral!” Dan semakin sukses dibuatnya aku heran.
Katanya ia ingin tanding lari dengan pencuri dan menangkap
mereka.
Memang, ia terkenal jago berlari.
Ia bek kiri andalan kami di timnas seminari.
“Ah..., sudahlah! Jangan engkau teruskan mimpimu itu,
teman. Kamu itu calon imam!!!”
Sahutku keras agak
tertahan.
Toh, ia hanya tertawa.
Sambil terus pergi berjalan melenggang.
Post scriptum :
Yah…, temanku ini memang punya cita-cita
tidak wajar. Menjadi satpam jika tidak
meneruskan jalannya menjadi imam. Namun syukur kepada Allah, ia masih setia dan
belum benar-benar tergoda untuk mewujudkan cita-citanya tersebut. Ia bukan
orang yang bodoh. Justru ia tipe yang tekun dalam belajar. Nilai-nilainya pun
memuaskan. Rajin ikut rutinitas harian dan pribadinya sederhana. Hingga
sekarang pun, aku masih heran. Mengapa ia ingin
menjadi satpam? Terlalu sayang orang demikian menjadi satpam.
Apakah para pejabat korup
berani punya cita-cita demikian? Menjadi pelayan kecil, hina, dan tak diperhitungkan.
Maka semakin kagumlah aku dengan temanku ini, yang bercita-cita menjadi satpam.
Semoga Tuhan memanggilnya untuk terus menjadi imam. Gereja membutuhkan mereka
yang demikian.
wow, was he joking?
BalasHapus