05 Maret 2012

MENJADI MANUSIA BUKAN SUATU KESALAHAN



Menjadi manusia bukan kesalahan fatal. Jika alasannya adalah karena hidup hanya penderitaan dan kesia-siaan belaka. Namun kalau demikian, bukankah itu berarti bahwa Tuhan pun melakukan kesalahan serupa karena sudah menjadi manusia?

Banyak  orang ingin kembali menjadi bayi, atau menjadi makhluk hidup selain manusia,dan bahkan ingin mati, demi sebuah kebebasan abadi dari penderitaan serta kekhawatiran. Namun sungguhkah ada kebebasan abadi seperti demikian ini?

Tidak ada orang yang pernah tahu kapan penderitaan manusia akan berakhir. Akankah di ujung hidup ada neraka atau surga pun, siapa dapat menduga? Siapa tahu sesudah bebas dari penderitaan dunia, engkau justru masuk neraka yang konon merupakan penderitaan abadi. Bukankah nasib yang demikian ini adalah mimpi yang luar biasa buruk?

Manusia bangun pagi-pagi,  bekerja hingga larut malam, demi menjalani kehidupan, sampai suatu saat nanti mati. Lalu, apakah yang akan dibawanya pergi sesudah mati? Tidak ada kecuali tangisan dan ratapan.

Inilah kenyataan, teman! Namun bila manusia berhenti pada ketakutan, di hadapannya hanya akan ada kesia-siaan. Tetapi bila manusia tidak berhenti berpengharapan, siapa tahu di depan masih ada kebahagiaan.


Alam semesta membuka tangan bagi manusia yang berpengharapan. Keputusasaan abadi itu suatu kutukan alam semesta. Makanya, nama lain neraka adalah keputusasaan abadi. Karena itu, jangan berhenti berharap.

Harapan adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Itulah mengapa iman itu bisa mendatangkan kehidupan, karena ia memiliki unsur pengharapan.

Mungkin inilah nikmatnya menjadi manusia: anda selalu berada dalam ketidakpastian hidup di masa depan dan anda hanya memiliki harapan untuk dapat terus maju ke depan. Binatang atau tumbuhan sama-sama tidak memiliki ketpastian dalam hidup, tetapi mereka tidak memiliki harapan untuk apapun di masa depan.

Pertanyaan lebih lanjut, kepada siapakah atau apakah kita harus menaruh harapan kita? Kepada diri sendiri? Kepada orang-orang yang lebih berkuasa daripada kita? Kepada uang? Kepada kecantikan? Kepada institusi agama? Kepada sejarah? atau kepada apa? Kepada siapa?

Dan sekali lagi, inilah suatu kenikmatan luar biasa menjadi manusia. Anda mencoba terus menerus menemukan jawaban ini. Menemukan tempat untuk menaruh harapan secara tepat. Prinsipnya adalah trial and error; mencoba dan mendapati diri keliru. Begitu terus sampai anda menemukan jawaban yang benar.

Saya di sini tidak hendak memberikan jawaban yang tepat atas pertanyaan ini, mengenai kepada siapa anda harus menaruh harapan. Meski saya calon pemimpin agama, saya pun dengan tegas tidak mengajak anda menaruh harapan kepada Ia-Yang-Kita-Sebut-Tuhan. Karena saya berikan pun ya percuma, sejauh anda tidak melalui proses mencari secara trial and error itu.

Melalui tulisan ini, ada dua poin yang hendak saya ingatkan: yakni pertama, ingatlah untuk terus menaruh harapan dalam hidup anda. Harapan itu menimbulkan kehidupan. Sedang keputusasaan hanya mendatangkan kematian. Maka manusia yang paling menderita adalah manusia yang secara fisik masih hidup, tapi sudah tidak memiliki pengharapan. Terkutuklah yang demikian ini.

Kedua, jangan pernah menyesal menjadi manusia yang harus bersusah payah menghadapi hidup yang penuh derita ini. Justru ini adalah keasyikkan tersendiri bagi anda. Anda diajak untuk terus bermain-main, terus mencoba menemukan jawaban yang tepat: kepada siapa saya harus menaruh harapan saya? Dan inilah hal yang harus kita syukuri dalam kodrat ciptaan kita sebagai manusia.

Teman-teman, bila kita mampu berpikir sedemikian rupa seperti ini, bukankah kita bisa berucap dengan lirih namun pasti, bahwa meski hidup ini penuh penderitaan, namun menjadi manusia itu bukanlah kesalahan fatal. Karena sekali lagi, bila memang benar demikian, bukankah itu berarti bahwa Tuhan pun melakukan kesalahan serupa. Bila memang demikian, maka sia-sialah Tuhan telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri telah mencontohkan kepada kita cara menikmati hidup yang penuh penderitaan ini, yakni dengan tidak berhenti berpengharapan, bahkan saat menjelang kematian.

2 komentar: